Luntur - Author G

Cerita pendek (gak pendek-pendek banget sih) yang terinspirasi dari barusan tadi aku ngelamun :) sedikit mengutip dari kisah nyata yang agak di dramatisasi. Anggap aja fiksi.
20 Januari 2026



Suara gemeritik dari alat ketik, cahaya remang dari monitor, lampu-lampu yang mulai menyala satu persatu, ruangan yang sepi tapi terasa ramai dan sesak ini, mataku yang sedari tadi menatap layar mungkin sudah lebih dari tiga puluh menit aku termangu tanpa menggerakkan jariku untuk mengetik apa pun, dokumen di depanku masih sama, tinggal beberapa lembar lagi selesai tapi pikiranku yang mulai terbang ke segala tempat ini membuatku hanya diam, untungnya hanya tinggal aku dan beberapa orang saja yang terakhir tinggal di kantor ini.

"Besok aku lanjut lagi, tinggal sedikit bisaku kebut pagi-pagi" bangun dari kursi aku merapikan meja kerjaku, memasukkan beberapa alat kerja milikku ke tas dan mematikan komputer.

Di jalan pulang mataku tertuju pada sebuah toko ATK yang biasanya aku kunjungi untuk membeli notebook atau alat tulis dan juga peralatan untuk menggambar. 

'Menggambar... Ya?' 

Aku menghela nafas berat, terhitung 3 tahun semenjak aku terakhir menikmati hobi seniku, waktu SMP sampai SMA, tidak, lebih tepatnya dari aku kecil. Kesenian sudah seperti jantung di dalam diriku, ke mana pun aku pergi, apa pun itu kota yang aku tinggali, teman, sekolah, bahkan prestasi-prestasi yang menumpuk di lemariku semua adalah tentang kesenian. Menggambar, tari, modeling, cerpen, puisi, dan masih banyak hal lainnya. Dan 3 tahun jantung itu sudah berhenti berdetak, berdetak pun kesenian ini tidak bisa memberimu makan, bodoh

Sesampainya aku di rumah aku meletakkan tas kerjaku di meja, rumah masih sepi, lampunya belum menyala tandanya ibuku belum pulang.

"Tumben, sudah jam segini? Ah mungkin masih mengobrol sama teman-teman gerejanya." 

Hari ini Kamis, hari ke 21 di bulan ke enam. Mungkin sudah beranjak hampir empat tahun lamanya setelah terakhir kali aku lulus dari SMA, masa-masa sekolah yang sayangnya tidak bisa aku ulang, sedikit menyesal karena dulu aku tidak fokus pada satu hal, lulus pun aku harus terombang-ambing selama satu tahun sebelum bisa mendapatkan pekerjaan pertamaku.

Setelah berganti baju aku duduk di meja di mana aku meletakkan tas kerjaku, meraba-raba mencari secarik kertas nota bukti pengeluaran hari ini. 

"Ah, mana sih...duh" 

Mungkin karena sedikit terburu-buru tidak sengaja tanganku secara kasar menjatuhkan beberapa barang dari mejaku. Buku-buku dan map jatuh berserakan di lantai, dengan nada kesal aku mengeluh sambil mengambil barang yang berserakan, saat aku mengambil mapku yang berwarna hijau ternyata penutupnya tidak terkunci rapat isinya pun ikut jatuh, ada album foto kenangan SD dan SMP, surat-surat kecil yang kutulis untuk cowok yang kusuka dulu, dan... Kertas berisikan gambaran kecil yang dulu kusimpan. 

Mataku menatap kertas gambar itu untuk sekian detik sampai akhirnya kuambil, sudah berdebu, coretan dari pensilnya juga sudah mulai memudar, tapi gambar di kertas itu masih jelas.

"Jelek"  Kataku dengan nada sarkastik dan mata mengernyit.

"Dulu aku bisa ya gambar gini? Iri rasanya sama diriku yang dulu... Jelek sih, tapi aku yang sekarang mana bisa gambar kayak gini lagi. Bikin bunga aja, salah."

Aku menatap gambaran itu sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke dalam map hijauku itu. Kali ini map itu aku masukkan ke dalam lemariku, bagian bawah, atau bisa di tafsirkan sebagai bagian 'sampah'. Aku menutup pintu lemari dan kembali duduk di mejaku.

"Dah lah cari kertas notanya besok pagi aja, capek." Aku meminggirkan tasku itu, kini mejaku terasa lebih luas dan kosong. Aku mengeluarkan ponselku membuka aplikasi ApaApp mencari nama teman seperjuanganku dari jaman purbakala itu. Angela. 

"Uuuuii Taniaa udah pulang kerjaaaa?" Seperti biasa suara Angela yang nyaring memang gak pernah gagal dalam urusan menyakiti gendang telingaku.

"Udah.." 

"Dih kok lemes gitu, jijik, kenapa nih? Galau? Cowok mana sini kasi tau tante

"Aku yang lebih jijik disini, anyway, aku suntuk banget..." 

"Jalan-jalan nih? Kemana? Café? Bayarin ya! Heheh" 

"Dah lah aku tutup aja, makin setress aku nanti" 

"Ehhhh bentar napa, canda doang aku tuuh~ sensi-sensi gini jangan-jangan kamu kangen mantan ya? Atau kangen akyuh? Hihihi"

"Iya, kangen diriku semenit yang lalu sebelum aku nelpun kamu, kayak bahagia gitu jiwaku." 

"Anak kampret"

"Ngel, kamu... Seneng gak sama dirimu yang sekarang?"

"Seneng banget lah, berduit, bisa beli ini itu, pacarku ganteng, kaya! Ahh nikmat mana lagi yang kau dustakan Taniaaaa?"  Dari pengeras suara ponselku aku bisa mendengar suara centil Angela sembari dia memuji-muji cowoknya itu.

"Udah dapet kerjaan? Masak iya full cowokmu semua yang biayain pernak-pernikmu itu?"

"And you kira? Apa itu kerja kalau calon suamimu ini sudah sangat matang, dikit lagi busuk itu kalo pake bahasa buah." Percuma rasanya basa-basi sama anak satu ini, kalau gak uang ya cowok.

"Aku kangen masa SMA, barusan pulang kerja aku gak sengaja nemu gambaranku waktu sekolah dulu..."

"Oh? Ohh... Jadi ini yang kamu galauin? Ngapain kangen masa sekolah? Kamu kan udah jadi budak korporat, gajimu juga gede, ya tinggal cari cowok yang sama-sama mapan, dah enak itu kan hidupmu?"

"Kalo di sederhanain pake kalimatmu ya gak salah, tapi rasanya kayak aku mulai tawar. Jahat gak sih kalo aku bilang aku pengen resign terus banting setir jadi seniman aja?" Seketika hening, hening yang sangat keras.

"Tania... Plis gak lucu bercandaanmu."

"Aku gak lagi bercanda Angela." 

"Tan, kamu tuh bisa kerja kantoran padahal cuman lulusan SMA aja udah ajaib tau gak! Dan lagi nih ya, jadi seniman kalo lu gak famous nama, gak laku! Di jaman sekarang ini seni itu gak cocok dijadikan barang dagang, ya kalo kamu pengen mangkrak di pinggir jalan dengan status 'seniman'-mu itu, silahkan aja sih, tapi saranku, mending tetep stay di kantormu aja. Emang kenapa sih? Boss-mu cari gara-gara lagi makannya kepikiran mau resign? Tania ada 1001 cara buat nge-prank boss mu tanpa harus kamu resign, gugel-in aja." 

"Ngawur, yang ada aku yang di pecat. Bukan, bukan masalah boss-ku atau siapa-siapa, ya... Kangen aja gitu, kamu tau sendiri kan seni di hidupku itu dah kayak detak jantungku sendiri." 

" Ahh Tania aku pusing, coba deh kamu jalan-jalan keluar cari angin sana, kamu cuman suntuk aja, jangan gara-gara suntuk kamu jadi ngorbanin karirmu, betewe dahan dulu ya, my bebeb sudah datang hehe mau nge-date, kamu cepetan punya pacar gih! Biar ada sandaran kalo kamu suntuk gini. Ciao~" Dan panggilan pun di tutup.

Aku menghela nafas panjang, kini berbaring di kasur menatap plafon.

Hampa. Otakku tidak bisa memunculkan imajinasi apa pun. Semuanya tertata rapi, layaknya dokumen yang sudah tersortir, cara pandang dan pemikiranku juga semua penuh dengan logika.

Tapi sisa-sisa rasa sentimental itu masih ada.

"Kalo aku coba gambar mungkin bisa aktif lagi?"

Aku bangun dari kasurku dan duduk lagi di meja, karena sudah lama tidak berkecimpung di dunia gambar-menggambar, aku hanya bisa menggunakan kertas bekas dokumen yang sudah tidak terpakai sebagai gantinya, untungnya masih ada pensil dan penghapus.

Goresan pertama... Dan aku sudah menyerah.

"Beda... Gak ada feel apapun. Dulu... Apa yang aku rasain ya waktu nggambar."

Gerakan tanganku kaku, goresan pensilku tidak rata, hasilnya memang jadi. Tapi karya ini lebih seperti dokumen dalam format garis melengkung.

Mati. Tidak ada jiwanya.

"Gak nyangka aku bakal iri sama diriku sendiri di masa lalu." 

Mataku yang panas sudah dibanjiri oleh air mata yang tetesannya membakar pipiku. Dalam hati aku berkata, 'Jadi ini kah rasanya kehilangan jati dirimu?'

Tidak lama pintu gerbang rumahku bersuara, menyadari kalau itu pasti ibu yang pulang aku buru-buru menghapus air mataku, mengusap wajahku yang sedikit memerah sembab, menghapus sisa-sisa tangisan cengengku. Ada apa sih sama aku hari ini, jangan-jangan mau datang bulan ini,  mood-ku jadi kacau, tiba-tiba jadi sentimentalis gini. Setelah memastikan bahwa wajahku tidak lagi terlihat habis menangis, aku keluar dari kamarku menyambut ibuku di ruang tamu.

"Tania? Bantuin ibu bawa belanjaannya!" 

"Okie dokie, sebentar. Wihhhh bawa apa tuh?" 

"Nih, dapet suguhan Mie Ayam." 

"Asekkk, tengkyuu ibundaku yang kucinta kurindu dan ku-" 

"Gilo" (nb : jijik)

"Sadis ih, sama anak sendiri" 

Baguslah, masih bisa aku akting habis menangis gitu. Hubunganku sama ibuku terkenal 'melanggar norma' normalnya sosial. Karena aku dan ibuku sekilas terlihat seperti dua sahabat daripada ibu dan anak, tapi, tentu saja tidak, dia masih ibuku, dan aku masih anaknya, tapi memang ibu ini unik preferensinya, pernah ibuku di tegur temannya yang bilang kalau aku ini tidak sopan sama orang tuaku sendiri, tapi ibuku dengan santainya menjawab "Aku lebih suka akrab sama anakku daripada hubungan yang terlalu tunduk banget sopan banget, enggak aja pokoknya, selagi masih tau batasan ibu dan anak, sah-sah aja." 

Gaul. Tidak heran. Memang 100% genetikaku ini dari ibuku.

Selesai ibuku berganti baju, ia beranjak ke dapur untuk menyiapkan bumbu dan bahan masakan. 

"Malem ini masak tumis kecambah aja ya sama goreng tahu." 

"Iyaaa" 

"INTERMEZZO CERITA" 

- RESEP TUMIS KECAMBAH -

 

Bahan :

- Kecambah (jelas >:D, 1 kresek 2 - 3k, kecambah yang agak panjang2 ya, bukan yang beby cambah)

- Ayam (ibu ku suka pake dada)

- Tahu

 

Bumbu :

- Bawang Merah (yang banyak! 6 - 8 biji)

- Bawang Putih (cukup 2 biji aja)

- Cabe rawit (terserah kalo ini, karena aku gak bisa pedes 3 aja cukup)

- Garam, Gula, Masako (takarannya pake cubitan XD bisa di kira-kira aja sesuai-in sama selera)

 

Masak :

Cincang semua tuh bumbu-bumbunya.

Tahunya di potong kotak-kotak kecil (kayak kalo bikin tahu kress) goreng terpisah ya tahunya, ibu ku suka yang garing, tapi setengah garing juga OK, sesuai-in selera aja.

 

Dada ayamnya di rebus sampai matang, kalau sudah potong kecil-kecil (di cincang juga boleh) air rebusannya jangan di buang, nanti masih kepakai.

 

Kalo sudah, tumis tuh bumbu sampai garing-garing gosong, masukin kecambahnya, kalo sudah agak lunak, masukin kaldu ayam, tahu goreng + ayamnya, masukin garam + gula + masako (sapi) sesuai selera.

Tumis-tumis bentar...

Dah jadi. Selamat makan :3

Setelah selesai menyiapkan makanan untuk makan malam, aku membawa lauk ke meja makan, ibu menyiapkan piring dan nasi.

Momen makan malam seperti ini tidak pernah berubah dari dulu, anehnya meskipun masakannya cuman sederhana tapi juga tidak bosan. Melamun sedikit, aku berpikir, apa kalau aku tetap menjalani keseharianku dengan seni seperti ini apa rasanya juga bisa sama?

"Hayo! Ngelamunin apa lagi? Cowok ya?" 

Seketika lamunanku runyam, ini ibuku sama sahabatku kok bisa sih pemikirannya sefrekuensi, jangan-jangan aku anak yang tertukar?

"Ndak kok, mana ada cowok. Dah lah ayo makan." 

Malam ini karena mood-ku yang aneh ini, suasana hati yang lagi mendung, aku makan dua porsi, satu porsi Mie Ayam di tambah satu porsi tumis kecambah. Apa itu stress? Makan!

Dan hari ini pun di tutup dengan obrolan biasa tentang bagaimana habisnya hari ini, tanpa aku berani menyampaikan tentang kegelisahanku, mungkin benar kata Angela, aku cuman suntuk.

Paginya aku kembali berangkat kerja, seperti biasa, tidak ada yang baru, hal baru di sini adalah hal yang mudah kita tebak dan kita atasi bersama, seperti hari-hari biasanya di kantor. Pagi itu aku melanjutkan dokumen yang kemarin tidak sempat kuselesaikan, untungnya hari ini aku memang sudah sengaja untuk datang lebih awal untuk menyelesaikannya, masih terhitung tepat waktu.

"Rajin banget kamu jam segini udah dateng?" Tiba-tiba ada suara langkah kaki dengan ketukan heels yang khas, Jean.

"Ahaha, gapapa lagi pengen aja, sendirinya juga dateng pagi." 

"Well... Lagi pengen aja juga. Aku pengen resign dari sini, hari ini mau pengajuan, kamu mau gak gantiin aku buat naik jabatan ke manager? Nanti aku coba usulin deh ke si boss, kerjaanmu rapi, cepet juga. Mau ya?"

"Loh? Tiba-tiba banget resign? Kenapa nih?" 

"Iya, aku pengen buka usaha sendiri, stuck aku kalo gini-gini doang hidupku, toh uang gaji udah aku tabung lama, so... I should be fine." 

"Keren, memang kalo udah jiwa-jiwa wirausaha udah beda kelas sih." Aku mengangguk dengan wajah kagum sambil sedikit menggoda Jean. Senior kantorku yang lumayan easy going, cuman ya kuat-kuat aja kalau ada yang 'terlambat' dari laju kerja dia. 

"Ah bisa aja kamu. Jadi gimana? Mau gak? Sebenernya calonnya gak cuman kamu, ada beberapa, tapi aku lebih mempercayakan jabatan ini ke kamu sih Tan, kamu lebih cocok aja gitu dalam bidang manajemen dan leadership."

"Mendadak banget ya, aku butuh waktu juga buat mutusin iya dan tidaknya."

"Oh, yasudah malah lebih baik memang harus dipikirkan dengan matang, tapi aku percaya sama kamu kok Tan! 3 hari cukup lah ya buat memutuskan?"

Aduh, 3 hari, sejujurnya waktunya terlalu singkat untuk memutuskan, tapi untuk level perusahaan, 3 hari itu sudah cukup lama. Konsep lebih cepat dalam membuat keputusan itu skill yang benar-benar riskan kalau tidak dipikir dengan matang. Aku hanya bisa tersenyum canggung dan mengangguk 'iya' sebagai respons. Dan waktu pun berlalu, pagi itu matahari yang sudah mulai terik, ruangan yang tadinya senyap kini penuh dengan kesibukan, aku dan komputerku dan seluruh isi otakku melawan gempuran dokumen kotak-kotak dan angka-angka.

Siang itu aku melamun, menghabiskan sisa jam istirahatku untuk memikirkan sebuah keputusan besar, aku butuh tempat untuk bercerita, sekalian untuk membantu menimang-timang pilihan sebelum memutuskan. 

"Arghh pulang kerja beli es krim ah!"

Dengan frustrasi aku mengacak-acak rambutku. Belum selesai dengan pikiran untuk resign dan melanjutkan karier seniku, karierku di perusahaan sudah di tawari untuk naik jabatan.

"Bahasa gaulnya my steak too juicy, and my lobster too buttery. Sigh... Dua-duanya enak, duh jadi pengen seafood. Angela hari ini agendanya sibuk pacaran gak ya?" Aku mengeluarkan ponselku untuk mengirimkan pesan untuk Angela

"Ngel, seafood sama aku apa date sama pacarmu? Pick one. Kalo aku, harus udah siap jam 6 tet! Telat semenit ku tinggal." 

Selesai aku mengirim pesan untuk Angela, aku menutup aplikasi ApaApp dan membuka aplikasi SataGram, masih ada waktu 10 menit sebelum jam kerjaku lanjut lagi. Berita-berita tentang politik, video kucing lucu, resep masakan, es krim, dan prestasi lukis, New York Times Bestseller. Aku mematikan layar ponselku seketika. Menyesakkan melihat hal yang dulunya menjadi nafas alamimu kini bahkan tidak bisa kau hirup kembali.

"Kalo bisa dikasi kesempatan... Dalam 3 hari ini, paling tidak sehari saja aku ingin bertemu diriku 10 tahun yang lalu. Si kecil Tania yang dulu itu kira-kira apa reaksi dia waktu tahu ternyata waktu sudah dewasa hidupnya tidak berputar di dunia kesenian melainkan korporat? Nangis gak ya? Dari dulu kan aku memang cengeng. Pasti nangis sih aku yakin... Hah... Maaf ya Anya ternyata Kakak Tania ini bukan seniman tapi anak kantoran." 

Kemudian ponselku bergetar, alarm penanda jam kerjaku sudah habis, aku mengecek bar notifikasi melihat jawaban dari Angela

"Jelas free seafood dong eh- maksudku kamu dong my forever honey sugar baby sweetie." 

Mataku berkedut membaca kata-kata dari Angela, membayangkan suara khas centilnya sudah membuatku merinding. Aku memberi reaksi "jempol" pada pesannya sebelum aku mematikan layar ponselku dan memasukkannya ke dalam kantong di rok panjangku. Langkah kakiku menuruni tangga terasa cukup berat dibandingkan hari biasanya, padahal hanya tentang pilihan untuk jalan hidup tapi entah kenapa rasanya berat, sebagian orang jika di perhadapkan pada pilihan yang kumiliki ini, aku yakin pasti jawaban mereka sangat jelas, untuk melanjutkan karier di perusahaan ini. Aku pun juga inginnya bisa menjawab dengan percaya diri, tapi mau sampai kapan ada di jalan ini? Mau sejauh mana aku meninggalkan jiwaku sendiri?

Sekembalinya aku ke kantor, melanjutkan sisa pekerjaan hari itu sampai tuntas, untungnya hari ini aku cukup kuat untuk fokus menyelesaikannya tepat waktu, pulang pun bisa tepat waktu.

Seperti janjiku untuk diriku sendiri waktu jam makan siang di kantor tadi, sepulang kerja aku mampir sebentar ke café yang menjual es krim rasa favoritku, cuma ada satu di kota ini, mungkin karena rasanya yang terlalu unik untuk lidah lokal, rasa es krim itu jadi kurang terkenal dan kurang peminatnya di banding rasa es krim konvensional pada umumnya.

Sembari menikmati semangkuk kecil es krim di meja café, aku sekali lagi mencoba memanaskan tanganku untuk menulis.

"Karena terbiasa apa-apa ku ketik, jadi jarang banget menggang pena dan kertas, coba nulis ah... Nulis apa ya tapi?" 

Aku melamun melihat keluar jendela café, ternyata memang imajinasiku sudah mati, hanya bisa melamunkan bayang-bayang samar. Aku menatap ke arah mejaku, secarik kertas putih kosong, sekosong pemandangan di alam imajinasiku. Tidak ada warna, nama karakter, pemandangan aksi atau apa pun, tidak ada, hanya ada pemandangan kantor dan dokumen-dokumen yang menumpuk.

Tidak! Terlalu sistematis!

Aku menutup kembali penaku, memasukkan kertas dan pena itu ke dalam tasku. Percuma, mustahil dalam sehari dua hari aku bisa membangkitkan apa yang sudah bertahun-tahun aku bunuh.

"Tuhan, tolong pertemukan aku dengan diriku sendiri. Ahh... Es krimnya kurang manis, rikues tambahin gula bisa gak sih?" 

Aku menggerutu sendiri di bawah nafasku. Selesai aku menghabiskan es krimku, aku melirik ke arah jam di tanganku.

17.34

Sudah waktunya untuk bersiap menjemput Angela, tapi sebelum aku beranjak dari tempat dudukku aku membuka ponselku untuk mengabari Angela. 

"Siap-siap, aku otw!" 

Selesai mengirim pesan aku beranjak dari kursiku menuju ke motorku.

Sesampainya aku di depan rumah Angela, dia berlari menuju gerbang untuk menyambutku. 

"Kejamnya dirimu! Benar-benar tepat waktu" 

Dengan nada terengah-engah mencoba mengatur nafasnya.

"Habisnya kamu setiap ku jemput malah masih make up-an. Harus ku disiplin-in dikit."

"Hih! iya iya."

Setelah semua sudah siap, motor pun melaju menuju ke rumah makan seafood yang aku tahu. Barusan ketemu rekomendasi di Gugel Maps, semoga jackpot

Sesampainya di rumah makan tersebut Angela langsung menuju ke kasir untuk memilih menu sedangkan aku mencari tempat duduk yang nyaman untuk nanti bisa makan sambil mengobrol. Aku sudah mempercayakan menu pesananku kepada Angela, dia yang paling tahun rekomendasi mana yang tepat.

"Tumben tiba-tiba gini ngajak nge-seafood ?"

Angela yang sudah selesai memesan kini duduk di kursi seberang meja berhadapan denganku

"Iya, di kantor aku dapat kabar kalo seniorku mau resign, dia milih aku untuk direkomendasikan jadi manajer penggantinya dia."

"WHAT!? Terus? Kamu jawab apa? Iya? Jangan bilang kamu mintak waktu buat mikir?" 

"Iya, jelas aku minta waktu, emang kamu kira naik jabatan enak?" 

"Enak lah! Anak ini gak waras, pacarku tuh udah kerja 6 tahun masih jadi karyawan itu-itu mulu, dia S1 loh! Memang ya kalo kekuatan orang dalam itu beda..." Angela menatapku dengan pandangan sinis tapi aku tahu dia tidak serius dengan kata-katanya.

"Orang dalam dari gudang? Mana ada orang dalam. Ya makannya itu, yang punya gelar aja belum tentu ke pilih, apalagi aku? Jujur aku sendiri juga gak paham kenapa aku." 

"Kamu jujur mungkin? Kerja pinter dan keras aja gak cukup. Kamu lumayan disiplin juga."

"Lumayan?" Aku menatap Angela dengan alis terangkat.

"Sangat. Terus apalagi entahlah mungkin seniormu itu menilai kamu ini benar-benar membuktikan kalau kamu gak sekedar karyawan suntikan." (Maksudnya karyawan yang masuk lewat jalur spesial ordal)

"Ya gimana, kesempatan bisa kerja kantoran modal lulusan SMA itu mujizat tau! Masa iya aku sia-siain? Dan selagi aku bisa keep up ya why not? Internet juga banyak tutorial-tutorial buat survive kerja kantoran, paling gak basic-nya lah."

"Dan gak semua orang otaknya seencer otakmu buat berpikir ke arah situ, paling internetnya ya habis buat ngeluh di sosmed urusan susahnya kerja di dunia korporat atau FnB dan bla bla bla lah pokoknya. Aku salah satu dari orang-orang jenis begitu."

"Padahal kamu gak kerja tapi kamu tetep ngeluh?"

"Hmm why not, kan?"

Aku menggeleng kepalaku, sayang Angela dari waktu sekolah punya potensi besar untuk bisa ada di posisiku, malahan dulu aku mengira aku yang bakal ada di posisi Angela sekarang ini. Fokusnya dalam dunia kehidupan berubah waktu dia bergaul dengan teman-teman yang memang punya bibit-bibit perusak. Aku sudah mencoba untuk membujuk Angela bekerja, paling tidak di toko-toko yang lumayan proper, tapi Angela tetap kekeh dengan pilihan hidupnya sekarang ini.

"Terus, selama sehari ini kira-kira kamu sudah dapat pencerahan belum untuk keputusanmu nantinya?"

"Belum..."

"Well, baru hari pertama, make sense"

"Ngel, kamu pernah kepikiran pengen ngobrol sama dirimu 10 tahun yang lalu gak?" 

"Hhm?" Angela mendongak menatapku dengan wajah tidak suka.

"Aku cuman kepikiran aja, kira-kira kita yang dulu kalau tahu kita yang sekarang ini hidupnya seperti apa itu gimana reaksinya, pikirku mungkin bakal bisa mutusin lebih jelas kalo aku bisa ketemu sama Tania 10 tahun yang lalu." 

Angela diam sebentar menunduk, raut wajahnya sedikit menunjukkan rasa penyesalan.

"Kalo aku mungkin... Entah ya? Kamu ngomong gitu aku juga jadi penasaran. Sejujurnya status 'murid teladan' itu bukan jiwaku tapi tuntutan, waktu masih remaja aku sempat membayangkan rasanya hidup bebas tanpa tuntutan atau aturan-aturan itu seperti apa. Sekarang hidupku benar-benar sudah terbalik. Mungkin Angela kecil bakal kagum? Tapi Angela dewasa ini sejujurnya kangen masa-masa semua masih teratur, tapi ya sudah, sudah seperti ini aku juga suka dengan pilihan hidupku yang sekarang, perasaan kangen itu cuman angin lalu aja, gak aku gubris terlalu dalam."

"Gitu ya..." 

Aku hanya bisa menatap kearah piringku yang sudah kosong. Malam itu obrolanku dengan Angela memberiku sedikit pencerahan.

Sepulang dari mengantar Angela pulang, aku mengingat kembali lamunanku yang dulu pernah melintas di benakku.

Jadi wanita karier di kantoran itu juga salah satu wish list-ku waktu kecil, mungkin karena aku selalu hidup berkutat dalam hal-hal kesenian aku punya pikiran untuk mencoba hal baru yang berbanding terbalik dengan jiwaku dulu. Bahkan gaya hidupku dulu dan sekarang lebih teratur diriku yang sekarang.

Perbandingannya benar-benar berbanding terbalik, sama seperti apa yang Angela katakan, tapi bedanya Angela memang menginginkan untuk punya masa depan seperti dia saat ini, meskipun banyak orang tidak mendukung keputusannya karena keputusan itu terlalu bodoh dan tidak menjamin masa depan dengan baik. Aku juga salah satu dari sekian banyak orang yang tidak menyetujui pilihan hidupnya.

"Banyak orang juga pasti memilih aku untuk tetap bertahan pada karierku sekarang ini. Bukan berarti karier seniku itu pilihan yang buruk tapi memang bukan pilihan yang tepat juga, apalagi skill-ku benar-benar sudah luntur. Hilang mungkin." 

Aku menghela nafas panjang sekali lagi, selesai mandi aku menuju kamarku mencoba sekali lagi kali ini mewarnai. Salah satu hal yang aku lumayan benci adalah mewarnai, seni sih iya seni, tapi mungkin kali ini aku bisa melakukannya.

Aku mengeluarkan peralatan lukis yang aku miliki ketika dulu aku pernah mengikuti klub melukis, di tahun pertama setelah kelulusanku aku masih menghabiskan waktuku untuk year gap dan mengisi kekosongan dengan mengikuti klub melukis. Aku bukan yang paling pintar melukis di antara teman-temanku saat itu, tapi aku tidak merasa berkecil hati dengan kapasitas yang aku punya waktu itu.

Aku menyiapkan kanvas kecil yang memang aku pernah punya juga dulu, berukuran 30 x 20cm, setelah semua persiapan alat-alat selesai, aku mulai meracik warna dari cat akrilik, melihat warna-warni dari cat sedikit membuat mood-ku membaik. 

Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin ku lukis, tapi tanganku tetap bergerak dengan lincah, aku biarkan tanganku ini mengambil kendali penuh dalam lukisan ini, setiap goresan, setiap pilihan warna, bentuk, pemandangan yang bahkan otakku tidak dapat membayangkan secara nyata akhirnya terlukiskan di kanvas lawasku ini.

"...." Aku menatap sebentar ke arah kanvasku, 3 jam sudah berlalu, waktu menunjukkan pukul 11.25, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, mungkin yang terasa sekarang ada punggungku yang nyeri. 

"Tiga jam, padahal kalau di hadapan komputer bisa kuat enam jam, duhh memang beginilah dewasa jompo." 

Aku yang bangun dari lantai tempat di mana aku sedari tadi duduk melukis selama tiga jam terakhir ini, berjalan menuju kasurku dan menggeletakkan tubuhku.

Mungkin karena hari ini banyak rollercoaster yang sudah kulalui, waktu pertama kali punggungku bertemu dengan kasur yang empuk, mataku langsung terpejam, tubuhku menjadi rileks dan aku telah tenggelam dalam tidur lelap. 

Malam itu aku bermimpi.

Anak kecil berambut ikal dengan senyuman lebarnya.

"Kakak!" 

Anak itu memanggil-manggilku dengan sebutan kakak. Dari kejauhan dia mulai berlari ke arahku, tapi bukannya semakin dekat rasanya tempat pijakanku merenggang menjauh.

Dan- *kriiiiiinggggggg*

"Uh?" 

Alarm di ponselku berbunyi membangunkanku dari mimpiku.

Aku memaksakan badanku untuk bangun dari kasur, meraih ponselku dan melihat jam, ternyata memang sudah pagi, rasanya baru saja masuk ke dunia mimpi tapi sudah pagi saja. Setelah aku memosisikan diriku untuk duduk aku melamun sebentar menatap ke arah cermin besar di lemari.

"Anak yang di mimpiku tadi... seperti tidak asing."

Aku menghela nafas panjang sebelum beranjak menuju kamar mandi.

"Okay... waktunya mandi, gak mau telat ke kantor"

Selesai aku mandi dan bersiap memakai kemeja putih dan rok biru tua kesukaanku, aku berjalan menuju dapur. Ibuku yang sibuk menyiapkan sarapan dan bekal merasakan kehadiranku.

"Sarapannya sudah siap, ambil piringmu, jam berapa ini?"

"Masih jam 7 pagi"

"Oh, ya sudah masih ada banyak waktu untuk bersiap"

Aku tidak pernah terbiasa sarapan pagi, meskipun sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Aku bisa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghabiskan 1 porsi bayi saat pagi hari. Apalagi kalau kondisi pikiranku sedang tidak baik-baik saja, dan katakanlah hari ini aku semakin tidak baik-baik saja ditambah dengan tawaran kenaikan pangkat di kerjaan, ini hari ke-2 dan aku belum bisa memutuskan apa pun sama sekali.

"Mintak di undur seminggu aja kali ya?"

"Apanya yang di undur seminggu?" Ibuku yang berjalan dari arah dapur sambil membawa kotak bekalku itu menyahut lamunanku yang tidak sengaja keluar dari mulutku. Ah iya, aku belum cerita ke ibuku kalau aku ditawari naik jabatan begitulah isi pikiranku.

"Itu, aku ditawari naik jabatan jadi manager gantiin Kak Jean"

"Oh? bagus dong itu, terus gimana udah buat keputusan?"

"Belum, aku masih minta waktu buat mikir"

Ibuku menatapku sebentar dia meraih tanganku yang dari tadi memegangi sendok. "Lagi ada pikiran apa kamu, akhir-akhir ini ibu lihat kok kamu kayak ngelamun terus."

Aku menatap ibu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Buk... Ibu gak apa kan kalau tania mau ubah karier jadi seniman?" Ibu masih menatapku dengan wajah yang sedikit lega, lega karena apa pikirku, masakan iya dia lega kalau aku resign dari kerjaan ini?

"Tania, apa pun pilihan hidupmu, ibu tidak akan melarang, tapi biarkan ibu kasi nasihat sedikit ke kamu. Ibu memang tidak tahu banyak tentang seni, apalagi harga untuk peralatan dalam seni, ibu percaya kamu yang lebih tahu banyak tentang itu. Sekarang apa kamu mampu membangun semua dari awal dengan modal yang saat ini kamu miliki?"

Aku sedikit tertegun dengan kata-katanya tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada benarnya selain modal menjadi seniman itu tidak sedikit, ditambah dengan skill-ku yang terasa memudar ini, apa aku bisa layak jadi seorang seniman seperti yang ada di pikiranku? apakah semua akan terasa semudah itu?

"Jean si manager mu itu kenapa alasan dia resign?"

"Dia ngerasa stuck, jadi dia mau buka usaha sendiri"

"Oh, sama kayak kamu dong?"

Aku menatap ke arah ibuku dengan tanda tanya tak terlihat di atas kepalaku.

"Kamu juga merasa stuck kan? mungkin karena kamu merasa terlalu nyaman kamu butuh sesuatu yang baru?" Kata-kata yang di ucapkan oleh ibuku ini seperti sebuah palu yang mengetuk hatiku dengan kasar.

"Tania, ibu tidak melarang kamu memilih jalan apa pun dalam hidupmu ini, kalau suatu hari nanti kamu ingin jadi seniman seperti mimpimu di masa kecil, silakan, tapi coba kamu lihat Jean. Kariernya sudah pernah berada di puncak, dia sudah melakukan banyak hal yang ingin dia lakukan, kerjaannya sudah pernah berada di masa kejayaan, usianya sekarang sudah memasuki usia yang cukup untuk memulai karier baru, dengan pengalaman bahkan dengan modal yang ada. Ibu tidak melarangmu jika suatu hari kamu mengambil jalan yang sama tapi kamu juga harus punya persiapan yang tepat supaya kamu sendiri tidak jatuh di tengah jalan dan menyesali keputusanmu sendiri. Sekarang, ibu mau tanya karya apa yang sudah kamu hasilkan sejauh ini? Katakanlah dalam satu minggu terakhir ini."

Aku menundukkan wajahku, benar aku belum membuat karya apa pun, karya yang ada semua karya yang kubuat di masa sekolahku dan itu tidak bisa jadi relevansi untuk modal seniku sekarang.

Di tengah lamunanku ibuku menggapai tanganku lagi dan berkata kepadaku

"Kamu masih muda Tania, masih panjang waktumu untuk mengeksplor dunia ini, coba sesekali bepergian ke kota lain, tempat lain di negara ini atau mungkin kalau ada kesempatan yang lebih bisa coba untuk pergi ke luar negeri, bertemu dengan banyak orang berkenalan dengan banyak orang dan mendengarkan cerita-cerita mereka, mungkin dari situ nanti kamu akan mendapatkan kembali inspirasimu dan menciptakan karya baru yang tidak hanya berkutat di kehidupanmu yang sekarang ini. dan untuk sekarang baiknya kamu fokus menata kariermu sampai benar-benar kuat baru kemudian kalau memang dirasa kamu punya cukup modal cobalah hal-hal yang ingin kamu coba. Menjadi seniman pun juga butuh kenalan. Sekarang siapa kenalan seniman yang kamu punya? Angela? Pfftt... Ah sudah.. sudah... Semoga percakapan ini bisa kasi kamu sedikit gambaran untuk jawaban yang tepat, bagaimanapun juga yang nantinya akan membuat keputusan itu adalah kamu sendiri."

Ibuku beranjak dari kursinya yang membuatku sadar akan waktu yang sudah berlalu, aku segera menghabiskan sarapanku dan membawa bekalku, aku berpamitan dengan ibuku kemudian berangkat ke kantor.

Sesampainya aku ke kantor aku bertemu dengan Jean, aku melambaikan tanganku dan memanggilnya, Jean melihat ke arahku sambil tersenyum.

"Tania! Gimana sudah ada keputusan?"

"Ah belum, tapi aku justru ingin ngobrol sama Kak Jean, mungkin dari obrolan ini aku nanti bisa menemukan jawaban untuk keputusan akhirku nanti"

"Oh? Okay, nanti jam makan siang kita ngobrol di kafe seberang kantor ya."

Aku mengangguk mengiyakan, aku merasa yakin mungkin sehabisnya mengobrol dengan Kak Jean nanti pasti akan membuka kan jawaban akhir dari segala yang membuatku pusing akhir-akhir ini.

Hari itu sudah menunjukkan pukul 12 siang, bel jam makan siang juga sudah berbunyi, semua teman-teman kantorku beranjak keluar menuju kantin, aku merapikan mejaku sebelum aku beranjak pergi.

Kak Jean sudah menunggu ku di luar pintu ruangan kantor.

"Ayo Tania, kamu gimana kabarnya akhir-akhir ini? jujur aja aku tiap hari itu memperhatikan raut wajahmu kayak capek gitu, kerjaan lagi hektik?"

"Oh? Kak Jean merhatiin aku? udah di rencanakan dari awal berarti milih aku jadi penggantinya Kak Jean?"

Jean tertawa lepas, baru pertama ini aku lihat dia tertawa selepas ini.

"Ahahah bisa aja kamu."

"Ahahha, bercanda kak, dan buat menjawab pertanyaan Kak Jean yang awal itu, sebenarnya iya... ada sedikit hal yang bikin aku akhir-akhir ini.... merasa... hmmm hilang?"

Jean menatapku dengan alis terangkat.

"Hilang?"

"Iya, dan sebenarnya juga aku mengajak Kak Jean mengobrol ini juga untuk mencari jawaban."

Jean menatapku dengan lembut, Jean sudah seperti kakakku sendiri, di luar kantor, ini bukan kali pertama aku meminta nasihat atau sekedar mengajak obrol untuk membahas hal-hal tentang kehidupan atau hanya sekedar bercanda.

Sesampainya kita di kafe, aku memilih tempat duduk yang cukup jauh dari keramaian dan tempatnya juga lumayan nyaman untuk mengobrol. Kemudian kita berdua memesan melalui menu yang sudah terpampang di meja.

"Jadi apa yang sebenarnya ganggu pikiranmu itu?" Jean memang tipe orang yang to the point, meskipun ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja aku masih belum terbiasa dengan gaya bicaranya yang to the point itu, meskipun sejujurnya cara bicaranya yang khas seperti ini cukup membantuku untuk bisa menata kata-kata yang tepat untuk membahas sesuatu dalam diskusi di kantor, tapi untuk percakapan santai begini... cukup sulit kalau boleh jujur.

"To the point banget ya kak. okey jadi gini kak, Aku kepikiran untuk ubah karierku jadi seorang Seniman."

Aku sudah menyiapkan diri untuk mendengar penolakan atau bahkan ejekan yang mungkin saja bisa keluar dari mulut Kak Jean, sudah berapa kali orang-orang di sekitarku seakan-akan meremehkan impian ini, ya kecuali Ibuku.

"Wow... Kamu ada bakat dalam seni? Aku gak pernah tau loh, kamu gak pernah memperlihatkan sisi senimu soalnya... dan kamu sendiri juga tidak terlihat seperti orang yang biasa melakukan seni sih."

ugh... Lebih parah daripada mendengar hinaan orang tentang karya yangku buat.

"I- iya soalnya kan di kantor gak ada hubungannya sama seni kak"

"Aahaha ya ada benernya sih, well bagus tuh jadi seniman, kamu ada persiapan apa aja untuk memulai karier barumu ini? Kapan rencananya? Berarti ikut resign juga dong?"

"Kak satu-satu kak.... untuk persiapan belum ada, dan belum tau kapan mau mulai, resign juga belum sampai ke arah situ juga."

"Loh? belum ada persiapan? oh berarti cuman ada rencana? atau gimana?"

"Sebenarnya aku sendiri juga kurang tau apa aja yang perlu aku siapkan untuk karier seni ini, aku sendiri juga merasa akhir-akhir ini mulai kehilangan spark dalam jiwa seniku aku takut aku bakal kehilangan itu selamanya kalau aku tetap berkarir di kantoran seperti ini..."

Jean melihatku sebentar dan menghela nafas kecil, kemudian dia mengeluarkan buku jurnal kecil yang tebal, ketebalannya diisi dengan kertas yang terlihat seperti sudah dihias dengan banyak potongan-potongan kertas kecil lainnya.

"Aku mau tunjukkin kamu sesuatu, ini buku jurnaling-ku, ini bukuku yang ke 10, mark 10 tahun dalam jurnaling, isi di buku jurnal ini itu adalah foto-foto maupun kertas tiket atau struk belanja semua yang aku dapatkan 10 tahun terakhir ini. Jurnal ke-10ku ini isinya dari negara-negara Eropa."

Dia membuka selembar demi selembar menunjukkan lembaran demi lembaran yang penuh dengan Journey-nya selama ini.

"Satu buku ini diselesaikan dalam satu tahun Tania, dan ini tahun ke-10 aku membuat buku ini. gimana menurutmu? Bagus?"

"Bagus banget, setiap potongan dan penempatannya unik dan terlihat nyambung."

"Ahaha baguslah kalau kamu melihatnya begitu, jujur saja aku melihatnya seperti tidak beraturan. Apalagi kalau kamu lihat buku jurnal pertamaku, aku gak bawa sih di tas tapi aku ada videonya, setiap kali aku menyelesaikan jurnalku aku selalu mengabadikannya dalam sebuah video."

Jean mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan padaku sebuah video berisikan isi jurnalnya yang pertama. berantakan, dan masih banyak spot kosong di banding dengan jurnal yang tadi aku lihat.

Aku menatap ke arah Kak Jean dan bertanya.

"Kamu pasti mulai bertanya-tanya apa hubungannya dengan cerita kesenianmu kan?"

Jean seperti bisa membaca isi pikiranku dan dia tersenyum lebar dan berkata.

"Dulu aku ini penulis terkenal loh waktu SMA. Kalau kamu dulu itu kutu buku pasti paling tidak pernah membaca bukuku."

Aku sedikit terkejut dengan pernyataan Kak Jean barusan.

"Mungkin kamu pernah baca buku yang menceritakan tentang petualangan sepuluh pemuda melawan kejahatan di bumi? atau tentang gadis yang menjadi ratu Bumi? atauuuu cerita tentang empat pemuda yang bertemu dengan ceritanya masing-masing dan membuat grup band?"

Mataku terbelalak seketika teringan dengan buku-buku itu, semua itu buku yang cukup terkenal dan menjadi salah satu buku-buku dari seorang penulis yang menjadi inspiratorku dulu.

"Kak Jean... jangan-jangan kakak ini.... AUTHOR J. N. ITU?!"

Komentar

  1. Mana lanjutannyaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, eh sori2 aku gatau kamu siapa tapi makasih udah di baca, aku barusan banget upload part 2-nya ini linknya ya https://imaginmegraciepearl.blogspot.com/2026/07/luntur-author-g-part-2.html

      Hapus

Posting Komentar