Luntur - Author G
Suara gemeritik dari alat ketik,
cahaya remang dari monitor, lampu-lampu yang mulai menyala satu persatu,
ruangan yang sepi tapi terasa ramai dan sesak ini, mataku yang sedari tadi
menatap layar mungkin sudah lebih dari tiga puluh menit aku termangu tanpa
menggerakkan jariku untuk mengetik apa pun, dokumen di depanku masih sama,
tinggal beberapa lembar lagi selesai tapi pikiranku yang mulai terbang ke
segala tempat ini membuatku hanya diam, untungnya hanya tinggal aku dan
beberapa orang saja yang terakhir tinggal di kantor ini.
"Besok aku lanjut lagi,
tinggal sedikit bisaku kebut pagi-pagi" bangun dari kursi aku merapikan
meja kerjaku, memasukkan beberapa alat kerja milikku ke tas dan mematikan
komputer.
Di jalan pulang mataku tertuju pada
sebuah toko ATK yang biasanya aku kunjungi untuk membeli notebook atau
alat tulis dan juga peralatan untuk menggambar.
'Menggambar... Ya?'
Aku menghela nafas berat, terhitung
3 tahun semenjak aku terakhir menikmati hobi seniku, waktu SMP sampai SMA,
tidak, lebih tepatnya dari aku kecil. Kesenian sudah seperti jantung di dalam
diriku, ke mana pun aku pergi, apa pun itu kota yang aku tinggali, teman,
sekolah, bahkan prestasi-prestasi yang menumpuk di lemariku semua adalah
tentang kesenian. Menggambar, tari, modeling, cerpen, puisi, dan masih banyak
hal lainnya. Dan 3 tahun jantung itu sudah berhenti berdetak, berdetak pun
kesenian ini tidak bisa memberimu makan, bodoh.
Sesampainya aku di rumah aku
meletakkan tas kerjaku di meja, rumah masih sepi, lampunya belum menyala
tandanya ibuku belum pulang.
"Tumben, sudah jam segini? Ah
mungkin masih mengobrol sama teman-teman gerejanya."
Hari ini Kamis, hari ke 21 di bulan
ke enam. Mungkin sudah beranjak hampir empat tahun lamanya setelah terakhir
kali aku lulus dari SMA, masa-masa sekolah yang sayangnya tidak bisa aku ulang,
sedikit menyesal karena dulu aku tidak fokus pada satu hal, lulus pun aku harus
terombang-ambing selama satu tahun sebelum bisa mendapatkan pekerjaan
pertamaku.
Setelah berganti baju aku duduk di
meja di mana aku meletakkan tas kerjaku, meraba-raba mencari secarik kertas
nota bukti pengeluaran hari ini.
"Ah, mana
sih...duh"
Mungkin karena sedikit terburu-buru
tidak sengaja tanganku secara kasar menjatuhkan beberapa barang dari mejaku.
Buku-buku dan map jatuh berserakan di lantai, dengan nada kesal aku mengeluh
sambil mengambil barang yang berserakan, saat aku mengambil mapku yang berwarna
hijau ternyata penutupnya tidak terkunci rapat isinya pun ikut jatuh, ada album
foto kenangan SD dan SMP, surat-surat kecil yang kutulis untuk cowok yang kusuka
dulu, dan... Kertas berisikan gambaran kecil yang dulu kusimpan.
Mataku menatap kertas gambar itu
untuk sekian detik sampai akhirnya kuambil, sudah berdebu, coretan dari
pensilnya juga sudah mulai memudar, tapi gambar di kertas itu masih jelas.
"Jelek" Kataku
dengan nada sarkastik dan mata mengernyit.
"Dulu aku bisa ya gambar gini?
Iri rasanya sama diriku yang dulu... Jelek sih, tapi aku yang sekarang mana
bisa gambar kayak gini lagi. Bikin bunga aja, salah."
Aku menatap gambaran itu sebelum
akhirnya memasukkannya kembali ke dalam map hijauku itu. Kali ini map itu aku
masukkan ke dalam lemariku, bagian bawah, atau bisa di tafsirkan sebagai bagian
'sampah'. Aku menutup pintu lemari dan kembali duduk di mejaku.
"Dah lah cari kertas notanya besok pagi aja, capek." Aku meminggirkan tasku itu, kini mejaku terasa lebih luas dan kosong. Aku mengeluarkan ponselku membuka aplikasi ApaApp mencari nama teman seperjuanganku dari jaman purbakala itu. Angela.
"Uuuuii Taniaa udah pulang
kerjaaaa?"
Seperti biasa suara Angela yang nyaring memang gak pernah gagal dalam urusan
menyakiti gendang telingaku.
"Udah.."
"Dih kok lemes gitu, jijik,
kenapa nih? Galau? Cowok mana sini kasi tau tante"
"Aku yang lebih jijik disini, anyway,
aku suntuk banget..."
"Jalan-jalan nih? Kemana?
Café? Bayarin ya! Heheh"
"Dah lah aku tutup aja, makin setress aku
nanti"
"Ehhhh bentar napa, canda
doang aku tuuh~ sensi-sensi gini jangan-jangan kamu kangen mantan ya? Atau
kangen akyuh? Hihihi"
"Iya, kangen diriku semenit yang lalu sebelum aku
nelpun kamu, kayak bahagia gitu jiwaku."
"Anak kampret"
"Ngel, kamu... Seneng gak sama dirimu yang
sekarang?"
"Seneng banget lah, berduit,
bisa beli ini itu, pacarku ganteng, kaya! Ahh nikmat mana lagi yang kau
dustakan Taniaaaa?"
Dari pengeras suara ponselku aku bisa mendengar suara centil Angela sembari dia
memuji-muji cowoknya itu.
"Udah dapet kerjaan? Masak iya full cowokmu semua
yang biayain pernak-pernikmu itu?"
"And you kira? Apa itu kerja
kalau calon suamimu ini sudah sangat matang, dikit lagi busuk itu kalo pake
bahasa buah."
Percuma rasanya basa-basi sama anak satu ini, kalau gak uang ya cowok.
"Aku kangen masa SMA, barusan pulang kerja aku
gak sengaja nemu gambaranku waktu sekolah dulu..."
"Oh? Ohh... Jadi ini yang kamu
galauin? Ngapain kangen masa sekolah? Kamu kan udah jadi budak korporat, gajimu
juga gede, ya tinggal cari cowok yang sama-sama mapan, dah enak itu kan
hidupmu?"
"Kalo di sederhanain pake kalimatmu ya gak salah,
tapi rasanya kayak aku mulai tawar. Jahat gak sih kalo aku bilang aku pengen
resign terus banting setir jadi seniman aja?" Seketika hening, hening yang
sangat keras.
"Tania... Plis gak lucu
bercandaanmu."
"Aku gak lagi bercanda Angela."
"Tan, kamu tuh bisa kerja
kantoran padahal cuman lulusan SMA aja udah ajaib tau gak! Dan lagi nih ya,
jadi seniman kalo lu gak famous nama, gak laku! Di jaman sekarang ini seni itu
gak cocok dijadikan barang dagang, ya kalo kamu pengen mangkrak di pinggir
jalan dengan status 'seniman'-mu itu, silahkan aja sih, tapi saranku, mending
tetep stay di kantormu aja. Emang kenapa sih? Boss-mu cari gara-gara lagi
makannya kepikiran mau resign? Tania ada 1001 cara buat nge-prank boss mu tanpa
harus kamu resign, gugel-in aja."
"Ngawur, yang ada aku yang di pecat. Bukan, bukan
masalah boss-ku atau siapa-siapa, ya... Kangen aja gitu, kamu tau sendiri kan
seni di hidupku itu dah kayak detak jantungku sendiri."
" Ahh Tania aku pusing, coba
deh kamu jalan-jalan keluar cari angin sana, kamu cuman suntuk aja, jangan
gara-gara suntuk kamu jadi ngorbanin karirmu, betewe dahan dulu ya, my bebeb
sudah datang hehe mau nge-date, kamu cepetan punya pacar gih! Biar ada sandaran
kalo kamu suntuk gini. Ciao~" Dan panggilan pun di tutup.
Aku menghela nafas panjang, kini
berbaring di kasur menatap plafon.
Hampa. Otakku tidak bisa
memunculkan imajinasi apa pun. Semuanya tertata rapi, layaknya dokumen yang
sudah tersortir, cara pandang dan pemikiranku juga semua penuh dengan logika.
Tapi sisa-sisa rasa sentimental itu masih ada.
"Kalo aku coba gambar mungkin bisa aktif
lagi?"
Aku bangun dari kasurku dan duduk
lagi di meja, karena sudah lama tidak berkecimpung di dunia gambar-menggambar,
aku hanya bisa menggunakan kertas bekas dokumen yang sudah tidak terpakai
sebagai gantinya, untungnya masih ada pensil dan penghapus.
Goresan pertama... Dan aku sudah
menyerah.
"Beda... Gak ada feel apapun.
Dulu... Apa yang aku rasain ya waktu nggambar."
Gerakan tanganku kaku, goresan
pensilku tidak rata, hasilnya memang jadi. Tapi karya ini lebih seperti dokumen
dalam format garis melengkung.
Mati. Tidak ada jiwanya.
"Gak nyangka aku bakal iri
sama diriku sendiri di masa lalu."
Mataku yang panas sudah dibanjiri
oleh air mata yang tetesannya membakar pipiku. Dalam hati aku berkata, 'Jadi
ini kah rasanya kehilangan jati dirimu?'
Tidak lama pintu gerbang rumahku
bersuara, menyadari kalau itu pasti ibu yang pulang aku buru-buru menghapus air
mataku, mengusap wajahku yang sedikit memerah sembab, menghapus sisa-sisa
tangisan cengengku. Ada apa sih sama aku hari ini, jangan-jangan mau datang
bulan ini, mood-ku jadi kacau, tiba-tiba jadi sentimentalis
gini. Setelah memastikan bahwa wajahku tidak lagi terlihat habis menangis, aku
keluar dari kamarku menyambut ibuku di ruang tamu.
"Tania? Bantuin ibu bawa
belanjaannya!"
"Okie dokie, sebentar. Wihhhh
bawa apa tuh?"
"Nih, dapet suguhan Mie
Ayam."
"Asekkk, tengkyuu ibundaku
yang kucinta kurindu dan ku-"
"Gilo" (nb : jijik)
"Sadis ih, sama anak
sendiri"
Baguslah, masih bisa aku akting
habis menangis gitu. Hubunganku sama ibuku terkenal 'melanggar norma' normalnya
sosial. Karena aku dan ibuku sekilas terlihat seperti dua sahabat daripada ibu
dan anak, tapi, tentu saja tidak, dia masih ibuku, dan aku masih anaknya, tapi
memang ibu ini unik preferensinya, pernah ibuku di tegur temannya yang bilang
kalau aku ini tidak sopan sama orang tuaku sendiri, tapi ibuku dengan santainya
menjawab "Aku lebih suka akrab sama anakku daripada hubungan yang terlalu
tunduk banget sopan banget, enggak aja pokoknya, selagi masih tau batasan ibu
dan anak, sah-sah aja."
Gaul. Tidak heran. Memang 100% genetikaku ini dari
ibuku.
Selesai ibuku berganti baju, ia beranjak ke dapur
untuk menyiapkan bumbu dan bahan masakan.
"Malem ini masak tumis kecambah aja ya sama
goreng tahu."
"Iyaaa"
"INTERMEZZO CERITA"
- RESEP TUMIS KECAMBAH -
Bahan :
- Kecambah (jelas >:D, 1 kresek
2 - 3k, kecambah yang agak panjang2 ya, bukan yang beby cambah)
- Ayam (ibu ku suka pake dada)
- Tahu
Bumbu :
- Bawang Merah (yang banyak! 6 - 8
biji)
- Bawang Putih (cukup 2 biji aja)
- Cabe rawit (terserah kalo ini,
karena aku gak bisa pedes 3 aja cukup)
- Garam, Gula, Masako (takarannya
pake cubitan XD bisa di kira-kira aja sesuai-in sama selera)
Masak :
Cincang semua tuh bumbu-bumbunya.
Tahunya di potong kotak-kotak kecil
(kayak kalo bikin tahu kress) goreng terpisah ya tahunya, ibu ku suka yang
garing, tapi setengah garing juga OK, sesuai-in selera aja.
Dada ayamnya di rebus sampai
matang, kalau sudah potong kecil-kecil (di cincang juga boleh) air rebusannya
jangan di buang, nanti masih kepakai.
Kalo sudah, tumis tuh bumbu sampai
garing-garing gosong, masukin kecambahnya, kalo sudah agak lunak, masukin kaldu
ayam, tahu goreng + ayamnya, masukin garam + gula + masako (sapi) sesuai
selera.
Tumis-tumis bentar...
Dah jadi. Selamat makan :3
Setelah selesai menyiapkan makanan
untuk makan malam, aku membawa lauk ke meja makan, ibu menyiapkan piring dan
nasi.
Momen makan malam seperti ini tidak
pernah berubah dari dulu, anehnya meskipun masakannya cuman sederhana tapi juga
tidak bosan. Melamun sedikit, aku berpikir, apa kalau aku tetap menjalani
keseharianku dengan seni seperti ini apa rasanya juga bisa sama?
"Hayo! Ngelamunin apa lagi? Cowok ya?"
Seketika lamunanku runyam, ini
ibuku sama sahabatku kok bisa sih pemikirannya sefrekuensi, jangan-jangan aku
anak yang tertukar?
"Ndak kok, mana ada cowok. Dah lah ayo
makan."
Malam ini karena mood-ku
yang aneh ini, suasana hati yang lagi mendung, aku makan dua porsi, satu porsi
Mie Ayam di tambah satu porsi tumis kecambah. Apa itu stress? Makan!
Dan hari ini pun di tutup dengan
obrolan biasa tentang bagaimana habisnya hari ini, tanpa aku berani
menyampaikan tentang kegelisahanku, mungkin benar kata Angela, aku cuman
suntuk.
Paginya aku kembali berangkat
kerja, seperti biasa, tidak ada yang baru, hal baru di sini adalah hal yang
mudah kita tebak dan kita atasi bersama, seperti hari-hari biasanya di kantor.
Pagi itu aku melanjutkan dokumen yang kemarin tidak sempat kuselesaikan,
untungnya hari ini aku memang sudah sengaja untuk datang lebih awal untuk
menyelesaikannya, masih terhitung tepat waktu.
"Rajin banget kamu jam segini
udah dateng?" Tiba-tiba ada suara langkah kaki dengan ketukan heels
yang khas, Jean.
"Ahaha, gapapa lagi pengen
aja, sendirinya juga dateng pagi."
"Well... Lagi pengen aja juga.
Aku pengen resign dari sini, hari ini mau pengajuan, kamu mau gak gantiin aku
buat naik jabatan ke manager? Nanti aku coba usulin deh ke si boss, kerjaanmu
rapi, cepet juga. Mau ya?"
"Loh? Tiba-tiba banget resign?
Kenapa nih?"
"Iya, aku pengen buka usaha
sendiri, stuck aku kalo gini-gini doang hidupku, toh uang gaji
udah aku tabung lama, so... I should be fine."
"Keren, memang kalo udah
jiwa-jiwa wirausaha udah beda kelas sih." Aku mengangguk dengan wajah
kagum sambil sedikit menggoda Jean. Senior kantorku yang lumayan easy
going, cuman ya kuat-kuat aja kalau ada yang 'terlambat' dari laju kerja
dia.
"Ah bisa aja kamu. Jadi
gimana? Mau gak? Sebenernya calonnya gak cuman kamu, ada beberapa, tapi aku
lebih mempercayakan jabatan ini ke kamu sih Tan, kamu lebih cocok aja gitu
dalam bidang manajemen dan leadership."
"Mendadak banget ya, aku butuh
waktu juga buat mutusin iya dan tidaknya."
"Oh, yasudah malah lebih baik
memang harus dipikirkan dengan matang, tapi aku percaya sama kamu kok Tan! 3
hari cukup lah ya buat memutuskan?"
Aduh, 3 hari, sejujurnya waktunya
terlalu singkat untuk memutuskan, tapi untuk level perusahaan, 3 hari itu sudah
cukup lama. Konsep lebih cepat dalam membuat keputusan itu skill yang benar-benar
riskan kalau tidak dipikir dengan matang. Aku hanya bisa tersenyum canggung dan
mengangguk 'iya' sebagai respons. Dan waktu pun berlalu, pagi itu matahari yang
sudah mulai terik, ruangan yang tadinya senyap kini penuh dengan kesibukan, aku
dan komputerku dan seluruh isi otakku melawan gempuran dokumen kotak-kotak dan
angka-angka.
Siang itu aku melamun, menghabiskan
sisa jam istirahatku untuk memikirkan sebuah keputusan besar, aku butuh tempat
untuk bercerita, sekalian untuk membantu menimang-timang pilihan sebelum
memutuskan.
"Arghh pulang kerja beli es
krim ah!"
Dengan frustrasi aku mengacak-acak
rambutku. Belum selesai dengan pikiran untuk resign dan melanjutkan karier seniku,
karierku di perusahaan sudah di tawari untuk naik jabatan.
"Bahasa gaulnya my
steak too juicy, and my lobster too buttery. Sigh... Dua-duanya enak, duh
jadi pengen seafood. Angela hari ini agendanya sibuk pacaran gak ya?" Aku
mengeluarkan ponselku untuk mengirimkan pesan untuk Angela
"Ngel, seafood sama aku apa
date sama pacarmu? Pick one. Kalo aku, harus udah siap jam 6 tet! Telat semenit
ku tinggal."
Selesai aku mengirim pesan untuk
Angela, aku menutup aplikasi ApaApp dan membuka aplikasi
SataGram, masih ada waktu 10 menit sebelum jam kerjaku lanjut lagi.
Berita-berita tentang politik, video kucing lucu, resep masakan, es krim, dan
prestasi lukis, New York Times Bestseller. Aku mematikan layar ponselku
seketika. Menyesakkan melihat hal yang dulunya menjadi nafas alamimu kini
bahkan tidak bisa kau hirup kembali.
"Kalo bisa dikasi
kesempatan... Dalam 3 hari ini, paling tidak sehari saja aku ingin bertemu
diriku 10 tahun yang lalu. Si kecil Tania yang dulu itu kira-kira apa reaksi
dia waktu tahu ternyata waktu sudah dewasa hidupnya tidak berputar di dunia kesenian
melainkan korporat? Nangis gak ya? Dari dulu kan aku memang cengeng. Pasti
nangis sih aku yakin... Hah... Maaf ya Anya ternyata Kakak
Tania ini bukan seniman tapi anak kantoran."
Kemudian ponselku bergetar, alarm
penanda jam kerjaku sudah habis, aku mengecek bar notifikasi melihat jawaban
dari Angela
"Jelas free seafood dong eh-
maksudku kamu dong my forever honey sugar baby sweetie."
Mataku berkedut membaca kata-kata
dari Angela, membayangkan suara khas centilnya sudah membuatku merinding. Aku
memberi reaksi "jempol" pada pesannya sebelum aku mematikan layar
ponselku dan memasukkannya ke dalam kantong di rok panjangku. Langkah kakiku
menuruni tangga terasa cukup berat dibandingkan hari biasanya, padahal hanya
tentang pilihan untuk jalan hidup tapi entah kenapa rasanya berat, sebagian
orang jika di perhadapkan pada pilihan yang kumiliki ini, aku yakin pasti
jawaban mereka sangat jelas, untuk melanjutkan karier di perusahaan ini. Aku
pun juga inginnya bisa menjawab dengan percaya diri, tapi mau sampai kapan ada
di jalan ini? Mau sejauh mana aku meninggalkan jiwaku sendiri?
Sekembalinya aku ke kantor,
melanjutkan sisa pekerjaan hari itu sampai tuntas, untungnya hari ini aku cukup
kuat untuk fokus menyelesaikannya tepat waktu, pulang pun bisa tepat waktu.
Seperti janjiku untuk diriku
sendiri waktu jam makan siang di kantor tadi, sepulang kerja aku mampir
sebentar ke café yang menjual es krim rasa favoritku, cuma ada satu di kota
ini, mungkin karena rasanya yang terlalu unik untuk lidah lokal, rasa es krim
itu jadi kurang terkenal dan kurang peminatnya di banding rasa es krim
konvensional pada umumnya.
Sembari menikmati semangkuk kecil
es krim di meja café, aku sekali lagi mencoba memanaskan tanganku untuk
menulis.
"Karena terbiasa apa-apa ku
ketik, jadi jarang banget menggang pena dan kertas, coba nulis ah... Nulis apa
ya tapi?"
Aku melamun melihat keluar jendela
café, ternyata memang imajinasiku sudah mati, hanya bisa melamunkan
bayang-bayang samar. Aku menatap ke arah mejaku, secarik kertas putih kosong,
sekosong pemandangan di alam imajinasiku. Tidak ada warna, nama karakter,
pemandangan aksi atau apa pun, tidak ada, hanya ada pemandangan kantor dan
dokumen-dokumen yang menumpuk.
Tidak! Terlalu sistematis!
Aku menutup kembali penaku,
memasukkan kertas dan pena itu ke dalam tasku. Percuma, mustahil dalam sehari
dua hari aku bisa membangkitkan apa yang sudah bertahun-tahun aku bunuh.
"Tuhan, tolong pertemukan aku
dengan diriku sendiri. Ahh... Es krimnya kurang manis, rikues tambahin gula
bisa gak sih?"
Aku menggerutu sendiri di bawah
nafasku. Selesai aku menghabiskan es krimku, aku melirik ke arah jam di
tanganku.
17.34
Sudah waktunya untuk bersiap
menjemput Angela, tapi sebelum aku beranjak dari tempat dudukku aku membuka
ponselku untuk mengabari Angela.
"Siap-siap, aku
otw!"
Selesai mengirim pesan aku beranjak
dari kursiku menuju ke motorku.
Sesampainya aku di depan rumah
Angela, dia berlari menuju gerbang untuk menyambutku.
"Kejamnya dirimu! Benar-benar
tepat waktu"
Dengan nada terengah-engah mencoba
mengatur nafasnya.
"Habisnya kamu setiap ku
jemput malah masih make up-an. Harus ku disiplin-in dikit."
"Hih! iya iya."
Setelah semua sudah siap, motor pun
melaju menuju ke rumah makan seafood yang aku tahu. Barusan
ketemu rekomendasi di Gugel Maps, semoga jackpot.
Sesampainya di rumah makan tersebut
Angela langsung menuju ke kasir untuk memilih menu sedangkan aku mencari tempat
duduk yang nyaman untuk nanti bisa makan sambil mengobrol. Aku sudah
mempercayakan menu pesananku kepada Angela, dia yang paling tahun rekomendasi
mana yang tepat.
"Tumben tiba-tiba gini ngajak
nge-seafood ?"
Angela yang sudah selesai memesan
kini duduk di kursi seberang meja berhadapan denganku
"Iya, di kantor aku dapat
kabar kalo seniorku mau resign, dia milih aku untuk direkomendasikan jadi
manajer penggantinya dia."
"WHAT!? Terus?
Kamu jawab apa? Iya? Jangan bilang kamu mintak waktu buat mikir?"
"Iya, jelas aku minta waktu,
emang kamu kira naik jabatan enak?"
"Enak lah! Anak ini gak waras,
pacarku tuh udah kerja 6 tahun masih jadi karyawan itu-itu mulu, dia S1 loh!
Memang ya kalo kekuatan orang dalam itu beda..." Angela menatapku dengan
pandangan sinis tapi aku tahu dia tidak serius dengan kata-katanya.
"Orang dalam dari gudang? Mana
ada orang dalam. Ya makannya itu, yang punya gelar aja belum tentu ke pilih,
apalagi aku? Jujur aku sendiri juga gak paham kenapa aku."
"Kamu jujur mungkin? Kerja
pinter dan keras aja gak cukup. Kamu lumayan disiplin juga."
"Lumayan?" Aku menatap
Angela dengan alis terangkat.
"Sangat. Terus apalagi
entahlah mungkin seniormu itu menilai kamu ini benar-benar membuktikan kalau
kamu gak sekedar karyawan suntikan." (Maksudnya karyawan yang masuk lewat
jalur spesial ordal)
"Ya gimana, kesempatan bisa
kerja kantoran modal lulusan SMA itu mujizat tau! Masa iya aku sia-siain? Dan
selagi aku bisa keep up ya why not? Internet
juga banyak tutorial-tutorial buat survive kerja kantoran, paling gak basic-nya
lah."
"Dan gak semua orang otaknya
seencer otakmu buat berpikir ke arah situ, paling internetnya ya habis buat
ngeluh di sosmed urusan susahnya kerja di dunia korporat atau FnB dan
bla bla bla lah pokoknya. Aku salah satu dari orang-orang jenis begitu."
"Padahal kamu gak kerja tapi
kamu tetep ngeluh?"
"Hmm why not, kan?"
Aku menggeleng kepalaku, sayang
Angela dari waktu sekolah punya potensi besar untuk bisa ada di posisiku,
malahan dulu aku mengira aku yang bakal ada di posisi Angela sekarang ini.
Fokusnya dalam dunia kehidupan berubah waktu dia bergaul dengan teman-teman
yang memang punya bibit-bibit perusak. Aku sudah mencoba untuk membujuk Angela
bekerja, paling tidak di toko-toko yang lumayan proper, tapi Angela tetap kekeh
dengan pilihan hidupnya sekarang ini.
"Terus, selama sehari ini
kira-kira kamu sudah dapat pencerahan belum untuk keputusanmu nantinya?"
"Belum..."
"Well, baru hari
pertama, make sense"
"Ngel, kamu pernah kepikiran
pengen ngobrol sama dirimu 10 tahun yang lalu gak?"
"Hhm?" Angela mendongak
menatapku dengan wajah tidak suka.
"Aku cuman kepikiran aja,
kira-kira kita yang dulu kalau tahu kita yang sekarang ini hidupnya seperti apa
itu gimana reaksinya, pikirku mungkin bakal bisa mutusin lebih jelas kalo aku
bisa ketemu sama Tania 10 tahun yang lalu."
Angela diam sebentar menunduk, raut
wajahnya sedikit menunjukkan rasa penyesalan.
"Kalo aku mungkin... Entah ya?
Kamu ngomong gitu aku juga jadi penasaran. Sejujurnya status 'murid teladan'
itu bukan jiwaku tapi tuntutan, waktu masih remaja aku sempat membayangkan
rasanya hidup bebas tanpa tuntutan atau aturan-aturan itu seperti apa. Sekarang
hidupku benar-benar sudah terbalik. Mungkin Angela kecil bakal kagum? Tapi
Angela dewasa ini sejujurnya kangen masa-masa semua masih teratur, tapi ya
sudah, sudah seperti ini aku juga suka dengan pilihan hidupku yang sekarang,
perasaan kangen itu cuman angin lalu aja, gak aku gubris terlalu dalam."
"Gitu ya..."
Aku hanya bisa menatap kearah
piringku yang sudah kosong. Malam itu obrolanku dengan Angela memberiku sedikit
pencerahan.
Sepulang dari mengantar Angela
pulang, aku mengingat kembali lamunanku yang dulu pernah melintas di benakku.
Jadi wanita karier di kantoran itu
juga salah satu wish list-ku waktu kecil, mungkin karena aku selalu
hidup berkutat dalam hal-hal kesenian aku punya pikiran untuk mencoba hal baru
yang berbanding terbalik dengan jiwaku dulu. Bahkan gaya hidupku dulu dan
sekarang lebih teratur diriku yang sekarang.
Perbandingannya benar-benar
berbanding terbalik, sama seperti apa yang Angela katakan, tapi bedanya Angela
memang menginginkan untuk punya masa depan seperti dia saat ini, meskipun
banyak orang tidak mendukung keputusannya karena keputusan itu terlalu bodoh
dan tidak menjamin masa depan dengan baik. Aku juga salah satu dari sekian
banyak orang yang tidak menyetujui pilihan hidupnya.
"Banyak orang juga pasti
memilih aku untuk tetap bertahan pada karierku sekarang ini. Bukan berarti karier
seniku itu pilihan yang buruk tapi memang bukan pilihan yang tepat juga,
apalagi skill-ku benar-benar sudah luntur. Hilang mungkin."
Aku menghela nafas panjang sekali
lagi, selesai mandi aku menuju kamarku mencoba sekali lagi kali ini mewarnai.
Salah satu hal yang aku lumayan benci adalah mewarnai, seni sih iya seni, tapi
mungkin kali ini aku bisa melakukannya.
Aku mengeluarkan peralatan lukis
yang aku miliki ketika dulu aku pernah mengikuti klub melukis, di tahun pertama
setelah kelulusanku aku masih menghabiskan waktuku untuk year gap dan
mengisi kekosongan dengan mengikuti klub melukis. Aku bukan yang paling pintar
melukis di antara teman-temanku saat itu, tapi aku tidak merasa berkecil hati
dengan kapasitas yang aku punya waktu itu.
Aku menyiapkan kanvas kecil yang
memang aku pernah punya juga dulu, berukuran 30 x 20cm, setelah semua persiapan
alat-alat selesai, aku mulai meracik warna dari cat akrilik, melihat
warna-warni dari cat sedikit membuat mood-ku membaik.
Sejujurnya aku tidak tahu apa yang
ingin ku lukis, tapi tanganku tetap bergerak dengan lincah, aku biarkan
tanganku ini mengambil kendali penuh dalam lukisan ini, setiap goresan, setiap
pilihan warna, bentuk, pemandangan yang bahkan otakku tidak dapat membayangkan
secara nyata akhirnya terlukiskan di kanvas lawasku ini.
"...." Aku menatap
sebentar ke arah kanvasku, 3 jam sudah berlalu, waktu menunjukkan pukul 11.25,
tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, mungkin yang terasa sekarang ada
punggungku yang nyeri.
"Tiga jam, padahal kalau di
hadapan komputer bisa kuat enam jam, duhh memang beginilah dewasa
jompo."
Aku yang bangun dari lantai tempat
di mana aku sedari tadi duduk melukis selama tiga jam terakhir ini, berjalan
menuju kasurku dan menggeletakkan tubuhku.
Mungkin karena hari ini
banyak rollercoaster yang sudah kulalui, waktu pertama kali
punggungku bertemu dengan kasur yang empuk, mataku langsung terpejam, tubuhku
menjadi rileks dan aku telah tenggelam dalam tidur lelap.
Malam itu aku bermimpi.
Anak kecil berambut ikal dengan
senyuman lebarnya.
"Kakak!"
Anak itu memanggil-manggilku dengan
sebutan kakak. Dari kejauhan dia mulai berlari ke arahku, tapi bukannya semakin
dekat rasanya tempat pijakanku merenggang menjauh.
Dan- *kriiiiiinggggggg*
"Uh?"
Alarm di ponselku berbunyi
membangunkanku dari mimpiku.
Aku memaksakan badanku untuk bangun
dari kasur, meraih ponselku dan melihat jam, ternyata memang sudah pagi,
rasanya baru saja masuk ke dunia mimpi tapi sudah pagi saja. Setelah aku memosisikan
diriku untuk duduk aku melamun sebentar menatap ke arah cermin besar di lemari.
"Anak yang di mimpiku tadi...
seperti tidak asing."
Aku menghela nafas panjang sebelum
beranjak menuju kamar mandi.
"Okay... waktunya mandi, gak
mau telat ke kantor"
Selesai aku mandi dan bersiap
memakai kemeja putih dan rok biru tua kesukaanku, aku berjalan menuju dapur.
Ibuku yang sibuk menyiapkan sarapan dan bekal merasakan kehadiranku.
"Sarapannya sudah siap, ambil
piringmu, jam berapa ini?"
"Masih jam 7 pagi"
"Oh, ya sudah masih ada banyak
waktu untuk bersiap"
Aku tidak pernah terbiasa sarapan
pagi, meskipun sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Aku bisa membutuhkan
waktu yang cukup lama untuk menghabiskan 1 porsi bayi saat pagi hari. Apalagi
kalau kondisi pikiranku sedang tidak baik-baik saja, dan katakanlah hari ini
aku semakin tidak baik-baik saja ditambah dengan tawaran kenaikan pangkat di
kerjaan, ini hari ke-2 dan aku belum bisa memutuskan apa pun sama sekali.
"Mintak di undur seminggu aja
kali ya?"
"Apanya yang di undur
seminggu?" Ibuku yang berjalan dari arah dapur sambil membawa kotak
bekalku itu menyahut lamunanku yang tidak sengaja keluar dari mulutku. Ah iya,
aku belum cerita ke ibuku kalau aku ditawari naik jabatan begitulah isi
pikiranku.
"Itu, aku ditawari naik
jabatan jadi manager gantiin Kak Jean"
"Oh? bagus dong itu, terus
gimana udah buat keputusan?"
"Belum, aku masih minta waktu
buat mikir"
Ibuku menatapku sebentar dia meraih
tanganku yang dari tadi memegangi sendok. "Lagi ada pikiran apa kamu,
akhir-akhir ini ibu lihat kok kamu kayak ngelamun terus."
Aku menatap ibu dengan mata yang
mulai berkaca-kaca.
"Buk... Ibu gak apa kan kalau
tania mau ubah karier jadi seniman?" Ibu masih menatapku dengan wajah yang
sedikit lega, lega karena apa pikirku, masakan iya dia lega kalau aku resign
dari kerjaan ini?
"Tania, apa pun pilihan
hidupmu, ibu tidak akan melarang, tapi biarkan ibu kasi nasihat sedikit ke
kamu. Ibu memang tidak tahu banyak tentang seni, apalagi harga untuk peralatan
dalam seni, ibu percaya kamu yang lebih tahu banyak tentang itu. Sekarang apa
kamu mampu membangun semua dari awal dengan modal yang saat ini kamu
miliki?"
Aku sedikit tertegun dengan
kata-katanya tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada benarnya selain modal menjadi
seniman itu tidak sedikit, ditambah dengan skill-ku yang terasa memudar ini,
apa aku bisa layak jadi seorang seniman seperti yang ada di pikiranku? apakah
semua akan terasa semudah itu?
"Jean si manager mu itu kenapa
alasan dia resign?"
"Dia ngerasa stuck,
jadi dia mau buka usaha sendiri"
"Oh, sama kayak kamu
dong?"
Aku menatap ke arah ibuku dengan
tanda tanya tak terlihat di atas kepalaku.
"Kamu juga merasa stuck kan?
mungkin karena kamu merasa terlalu nyaman kamu butuh sesuatu yang baru?"
Kata-kata yang di ucapkan oleh ibuku ini seperti sebuah palu yang mengetuk
hatiku dengan kasar.
"Tania, ibu tidak melarang
kamu memilih jalan apa pun dalam hidupmu ini, kalau suatu hari nanti kamu ingin
jadi seniman seperti mimpimu di masa kecil, silakan, tapi coba kamu lihat Jean.
Kariernya sudah pernah berada di puncak, dia sudah melakukan banyak hal yang
ingin dia lakukan, kerjaannya sudah pernah berada di masa kejayaan, usianya
sekarang sudah memasuki usia yang cukup untuk memulai karier baru, dengan
pengalaman bahkan dengan modal yang ada. Ibu tidak melarangmu jika suatu hari
kamu mengambil jalan yang sama tapi kamu juga harus punya persiapan yang tepat
supaya kamu sendiri tidak jatuh di tengah jalan dan menyesali keputusanmu
sendiri. Sekarang, ibu mau tanya karya apa yang sudah kamu hasilkan sejauh ini?
Katakanlah dalam satu minggu terakhir ini."
Aku menundukkan wajahku, benar aku
belum membuat karya apa pun, karya yang ada semua karya yang kubuat di masa
sekolahku dan itu tidak bisa jadi relevansi untuk modal seniku sekarang.
Di tengah lamunanku ibuku menggapai
tanganku lagi dan berkata kepadaku
"Kamu masih muda Tania, masih
panjang waktumu untuk mengeksplor dunia ini, coba sesekali bepergian ke kota
lain, tempat lain di negara ini atau mungkin kalau ada kesempatan yang lebih
bisa coba untuk pergi ke luar negeri, bertemu dengan banyak orang berkenalan
dengan banyak orang dan mendengarkan cerita-cerita mereka, mungkin dari situ
nanti kamu akan mendapatkan kembali inspirasimu dan menciptakan karya baru yang
tidak hanya berkutat di kehidupanmu yang sekarang ini. dan untuk sekarang
baiknya kamu fokus menata kariermu sampai benar-benar kuat baru kemudian kalau
memang dirasa kamu punya cukup modal cobalah hal-hal yang ingin kamu coba.
Menjadi seniman pun juga butuh kenalan. Sekarang siapa kenalan seniman yang
kamu punya? Angela? Pfftt... Ah sudah.. sudah... Semoga percakapan ini bisa
kasi kamu sedikit gambaran untuk jawaban yang tepat, bagaimanapun juga yang
nantinya akan membuat keputusan itu adalah kamu sendiri."
Ibuku beranjak dari kursinya yang
membuatku sadar akan waktu yang sudah berlalu, aku segera menghabiskan
sarapanku dan membawa bekalku, aku berpamitan dengan ibuku kemudian berangkat
ke kantor.
Sesampainya aku ke kantor aku
bertemu dengan Jean, aku melambaikan tanganku dan memanggilnya, Jean melihat ke
arahku sambil tersenyum.
"Tania! Gimana sudah ada
keputusan?"
"Ah belum, tapi aku justru
ingin ngobrol sama Kak Jean, mungkin dari obrolan ini aku nanti bisa menemukan
jawaban untuk keputusan akhirku nanti"
"Oh? Okay, nanti jam makan
siang kita ngobrol di kafe seberang kantor ya."
Aku mengangguk mengiyakan, aku
merasa yakin mungkin sehabisnya mengobrol dengan Kak Jean nanti pasti akan
membuka kan jawaban akhir dari segala yang membuatku pusing akhir-akhir ini.
Hari itu sudah menunjukkan pukul 12
siang, bel jam makan siang juga sudah berbunyi, semua teman-teman kantorku
beranjak keluar menuju kantin, aku merapikan mejaku sebelum aku beranjak pergi.
Kak Jean sudah menunggu ku di luar
pintu ruangan kantor.
"Ayo Tania, kamu gimana
kabarnya akhir-akhir ini? jujur aja aku tiap hari itu memperhatikan raut
wajahmu kayak capek gitu, kerjaan lagi hektik?"
"Oh? Kak Jean merhatiin aku?
udah di rencanakan dari awal berarti milih aku jadi penggantinya Kak
Jean?"
Jean tertawa lepas, baru pertama
ini aku lihat dia tertawa selepas ini.
"Ahahah bisa aja kamu."
"Ahahha, bercanda kak, dan
buat menjawab pertanyaan Kak Jean yang awal itu, sebenarnya iya... ada sedikit
hal yang bikin aku akhir-akhir ini.... merasa... hmmm hilang?"
Jean menatapku dengan alis
terangkat.
"Hilang?"
"Iya, dan sebenarnya juga aku
mengajak Kak Jean mengobrol ini juga untuk mencari jawaban."
Jean menatapku dengan lembut, Jean
sudah seperti kakakku sendiri, di luar kantor, ini bukan kali pertama aku
meminta nasihat atau sekedar mengajak obrol untuk membahas hal-hal tentang
kehidupan atau hanya sekedar bercanda.
Sesampainya kita di kafe, aku
memilih tempat duduk yang cukup jauh dari keramaian dan tempatnya juga lumayan
nyaman untuk mengobrol. Kemudian kita berdua memesan melalui menu yang sudah
terpampang di meja.
"Jadi apa yang sebenarnya
ganggu pikiranmu itu?" Jean memang tipe orang yang to the point, meskipun
ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja aku masih belum terbiasa dengan gaya
bicaranya yang to the point itu, meskipun sejujurnya cara bicaranya yang khas
seperti ini cukup membantuku untuk bisa menata kata-kata yang tepat untuk
membahas sesuatu dalam diskusi di kantor, tapi untuk percakapan santai
begini... cukup sulit kalau boleh jujur.
"To the point banget ya kak.
okey jadi gini kak, Aku kepikiran untuk ubah karierku jadi seorang
Seniman."
Aku sudah menyiapkan diri untuk
mendengar penolakan atau bahkan ejekan yang mungkin saja bisa keluar dari mulut
Kak Jean, sudah berapa kali orang-orang di sekitarku seakan-akan meremehkan
impian ini, ya kecuali Ibuku.
"Wow... Kamu ada bakat dalam
seni? Aku gak pernah tau loh, kamu gak pernah memperlihatkan sisi senimu
soalnya... dan kamu sendiri juga tidak terlihat seperti orang yang biasa
melakukan seni sih."
ugh... Lebih parah daripada
mendengar hinaan orang tentang karya yangku buat.
"I- iya soalnya kan di kantor
gak ada hubungannya sama seni kak"
"Aahaha ya ada benernya sih,
well bagus tuh jadi seniman, kamu ada persiapan apa aja untuk memulai karier
barumu ini? Kapan rencananya? Berarti ikut resign juga dong?"
"Kak satu-satu kak.... untuk
persiapan belum ada, dan belum tau kapan mau mulai, resign juga belum sampai ke
arah situ juga."
"Loh? belum ada persiapan? oh
berarti cuman ada rencana? atau gimana?"
"Sebenarnya aku sendiri juga
kurang tau apa aja yang perlu aku siapkan untuk karier seni ini, aku sendiri
juga merasa akhir-akhir ini mulai kehilangan spark dalam jiwa seniku aku takut
aku bakal kehilangan itu selamanya kalau aku tetap berkarir di kantoran seperti
ini..."
Jean melihatku sebentar dan
menghela nafas kecil, kemudian dia mengeluarkan buku jurnal kecil yang tebal,
ketebalannya diisi dengan kertas yang terlihat seperti sudah dihias dengan
banyak potongan-potongan kertas kecil lainnya.
"Aku mau tunjukkin kamu
sesuatu, ini buku jurnaling-ku, ini bukuku yang ke 10, mark 10 tahun dalam
jurnaling, isi di buku jurnal ini itu adalah foto-foto maupun kertas tiket atau
struk belanja semua yang aku dapatkan 10 tahun terakhir ini. Jurnal ke-10ku ini
isinya dari negara-negara Eropa."
Dia membuka selembar demi selembar
menunjukkan lembaran demi lembaran yang penuh dengan Journey-nya
selama ini.
"Satu buku ini diselesaikan
dalam satu tahun Tania, dan ini tahun ke-10 aku membuat buku ini. gimana
menurutmu? Bagus?"
"Bagus banget, setiap potongan
dan penempatannya unik dan terlihat nyambung."
"Ahaha baguslah kalau kamu
melihatnya begitu, jujur saja aku melihatnya seperti tidak beraturan. Apalagi
kalau kamu lihat buku jurnal pertamaku, aku gak bawa sih di tas tapi aku ada
videonya, setiap kali aku menyelesaikan jurnalku aku selalu mengabadikannya
dalam sebuah video."
Jean mengeluarkan ponselnya, dan
menunjukkan padaku sebuah video berisikan isi jurnalnya yang pertama.
berantakan, dan masih banyak spot kosong di banding dengan jurnal yang tadi aku
lihat.
Aku menatap ke arah Kak Jean dan
bertanya.
"Kamu pasti mulai
bertanya-tanya apa hubungannya dengan cerita kesenianmu kan?"
Jean seperti bisa membaca isi
pikiranku dan dia tersenyum lebar dan berkata.
"Dulu aku ini penulis terkenal
loh waktu SMA. Kalau kamu dulu itu kutu buku pasti paling tidak pernah membaca
bukuku."
Aku sedikit terkejut dengan
pernyataan Kak Jean barusan.
"Mungkin kamu pernah baca buku
yang menceritakan tentang petualangan sepuluh pemuda melawan kejahatan di bumi?
atau tentang gadis yang menjadi ratu Bumi? atauuuu cerita tentang empat pemuda
yang bertemu dengan ceritanya masing-masing dan membuat grup band?"
Mataku terbelalak seketika teringan
dengan buku-buku itu, semua itu buku yang cukup terkenal dan menjadi salah satu
buku-buku dari seorang penulis yang menjadi inspiratorku dulu.
"Kak Jean... jangan-jangan kakak ini.... AUTHOR J. N. ITU?!"
Mana lanjutannyaaa?
BalasHapusHalo, eh sori2 aku gatau kamu siapa tapi makasih udah di baca, aku barusan banget upload part 2-nya ini linknya ya https://imaginmegraciepearl.blogspot.com/2026/07/luntur-author-g-part-2.html
Hapus