There's A Tiny Seeds of Burn Out - Author G

 Apakah postingan kali ini bisa aku katakan sebagai cerpen? Atau malah cuman update tentang kehidupan biasa?

Maunya sih update cerpen ya, tapi jujur aja aku lagi burn out banget baca buku novel akhir-akhir ini, mungkin karena bacaan buku yang lagi aku baca lumayan berat tapi cukup menginspirasi. Yang jadi masalah sekarang ini itu cara pandangku dan cara otakku mengolah suatu Point Of View.

Mann, mungkin karena aku sudah melalui cukup banyak lika-liku hidup (dibandingkan beberapa orang seusiaku yang aku tau) dan banyak lika-liku cara pandang yang setiap saat harus readjusting sampai di tahan dimana otakku bisa mencerna dengan cukup akurat patternnya, dan aku rasa ini juga yang mempengaruhi cara otakku mengolah sebuah cerita dan kata-kata untuk aku ketik.

Story telling masih jadi bagian dari cara kerja otakku, masih sama kayak Grace yang dulu, bedanya dulu otakku banyak mencerna bahkan memproduksi imajinasi yang bahkan I myself couldn't comprehend, dibuktikan dengan beberapa karya cerpen dan novel ku yang beberapa filenya aku simpan di GDrive wkwkkw, dulu imajinasiku bener-bener luas dan kreatif. Sekarang? well, how am I supposed to say it, harus ada sesuatu yang impactnya besar terjadi di hiduppku untuk mentrigger emosi kuat yang bisa mengaktifkan otakku untuk berimajinasi liar lagi. And NOPE! Not risking my peace just for a masterpiece. Falling in love last time is the hard evidence, sesuatu yang major terjadi di hidupku untuk sekali lagi tapi dengan tekanan dan suasana yang berbeda, yang jelas umur dewasa ini terasa lebih memukul. Mungkin energi masa remaja sudah beda dengan energi masa dewasa ini, jadi lebih males untuk menjerumuskan diri ke drama-drama murahan sosial sehari-hari, dalam percintaan juga, beban pikiran tentang kewajiban dan kesiapan untuk jangka panjang menjadi prioritas utama untuk diriku saat ini.

Dengan otakku yang sekarang memilih untuk bekerja in Safer Mode, memilih untuk obervant but in a critical manner dan action in a calculated ways dan bukan yang berani ngepush diri untuk fit in meskipun uncomfortable dan acting recklessly, meskipun ada miss dalam hidup tapi paling tidak resikonya masih bisa di tanggung sama otakku tanpa membuat otakku bekerja 100x lipat dan jatuh lah aku ke Burn Out.

Ini cara kerja otakku sekarang, sedangkan untuk mebuat cerita fantasi dengan imajinasi yang luas dan teliti, otakku harus dipaksa menerima tekanan baru, some impact yang bisa bikin otakku shut down dan perasaan dan emosiku yang ambil kendali.

Jatuh cinta kemarin dampaknya cukup besar untuk ego otakku, dan hatiku yang entah gimana ceritanya juga bisa terkoyak. Biasanya hatiku ini yang paling lemah soal cinta, tapi... well mungkin pendewasaan hati juga (?) dan okkey aku lihat notes di HP ku ada puluhan lirik lagu.

OH! no... bukan cuman cinta. Aku lupa sama 3 kejadian major waktu itu.

1. Urequited Love in a Gore way

2. Losing Job in the most Hardcore way

3. Losing yourself and people at church in the most Disrespectful way

4. Best Friend break up that hurts you more than when you find-out your crush is a PDF-ile

Three of them are major.


Yang poin pertama itu memang akunya aja yang dramatis sih and I asked for it kalau kalia semepet scroll kebawah aku ada pernah making a wish pengen jatuh cinta tapi yang unrequited. :') yeah pelajaran buat aku dan kalian untuk jangan asbun nge-wish yang aneh-aneh, ntar patah hati beneran nagis wkwkwkw.

Poin ke-2 ini jujur waktu itu gak ekspek bakal sehancur itu, mungkin kerasa makin berat karena kondisi juga barengan habis patah hati ya? Losing Job in the most Hardcore way ini, aku ceritain secara singkat padat dan dengan sebaik mungkin untuk gak terlalu blak-blakan karena jujur aja aku sudah memaafkan orang-orang yang bersangkutan.

Cerita awalnya ada di akhir tahun 2024 dimana di bulan-bulan itu aku dihadapkan dengan 2 pilihan yang sulit, Beasiswa full di Bandung atau kerja di Mojokerto di suatu perusaan tentang mesin-mesin gitu, perusahaan ini milik salah satu jemaat gereja.

Tau sendiri kuliah itu salah satu mimpiku dari luamaaaaa banget, tapi gabisa di pungkiri aku juga butuh pemasukan buat aku sendiri dan buat bantu ekonomi keluarga, dan kalau aku milih kuliah, meskipun beasiswa full tapi biaya hidup tetep ditanggung sendiri kan? Dan aku tahu kapasitas otakku gak mampu untuk kuliah dan kerja at the same time. Pasti  bakal ada salah satu yang performanya jadi turun... drastis. Dibaningkan kalau aku fokus dengan 1 hal aja.

Anyway, pilihanku adalah kerja. Dokumen Test Wawancara dan segala macam udah aku lewati dan aku berhasil masuk kerja dengan.... hmm dengan pandanganku yang sekarang bilang cara waktu itu kurang professional. Aku dapat info diterima bulan Oktober. tapi sampek Januari gak ada info panggilan untuk masuk, padahal biasanya perusaan prioritasin yang bisa masuk kerja BESOKnya. :) janggal kan? sayangnya dulu aku masih naif, sebenernya oktober itu aku masih ada kesempatan untuk ikut test ujian masuk beasiswanya, tapi aku kekeh bertahan sama pilihanku untuk tunggu panggilan dari perusahaan ini. 

Januari 2025 tiba, aku bener-bener menelan rasa maluku buat menghubungi Jemaat yang bakal jadi calon Boss ku ini, untuk mengucapkan selamat tahun baru dan bertanya kapan saya mulai kerja, oh well little did I know dalam beberapa bulan kedepan aku baru tahu, banyak juga barenganku yang ikut wawancara ketrima ini bahkan belum dapet panggilan sampek detik terakhir aku di pecat.

Semua sakit dan gak enaknya kerja ditambah perlakuan dari boss & istrinya yang makin nambah beban pikiranku semua meledak. Meledak keras sampai satu gereja mungkin memandangku jadi orang yang gak kompeten dan 'mengecewakan' ditambah riwayat pelayananku yang sayangnya gak pernah bikin mereka puas. Belum selesai disini sang istri masih beberapa kali menjelek-jelekkan keluargaku bahkan aku sendiri di belakangku. (Ahhh PS sebelum aku di pecat si Boss ngehire junior-yang jadi cikal bakal penggantiku- tapi aku akrab sama juniorku ini so yeah cerita ini di spill sama juniorku, dan ART dari istri si boss ini yang kebetulan-or not- juga sakit hati sama perilaku dan cara mereka pemperlakukan ART ini) meskipun aku sudah mewanti-wanti diriku sendiri untuk jangan percaya cerita ini 100% especially kata pembantunya, tapi juniorku sampai nahan nangis untuk cerita ini ke aku so, it must be that bad.

And of course this lead to point no. 3 Losing yourself and people at church in the most Disrespectful way karena boss ini adalah jemaat gereja yang segereja denganku dan gerejaku ini juga masih terbilang kecil jadi dari mulut ke mulut itu nyebarnya lumayan cepet, bagusnya gak semua dari mereka menghakimi any of us tapi beberapa itu adalah orang-orang yang memang kurang relevan dalam masalah ini, dan yang relevan justru gak bisa jadi penengah yang baik dan malah jadi samsak si istri juga. And everyone says it's all because of me, because of something that they thought I did ruins all of this.

Oh have I mentioned that my ex-boss and his wife also serve in a ministry?

Dan departemen pelayanan kita saling berhubungan, kalo departemen si ex-boss mah gak terlalu yang harus ngobrol atau diskusi bareng sama departemen pelayananku, tapi si istri (yang jujur aja aku sakit hatinya sama si istri ini, dia pelayanan di departemen MUA yang sudah jelas face to face sama PAW tiap pagi.

This going on for almost half a year and build up into a grudges.

This is the worst yet? I have a Best Friend break up that hurts you more than when you find-out your crush is a PDF-ile

Aku kehilangan hal-hal yang waktu itu ku anggap penting dalam satu waktu, dan sebenernya banyak poin yang aku gak masukin disini, kondisi keluargaku yang no better than what is already happening.

All of this leads to who I am now.

Bukan Grace yang naif lagi, Grace yang mungkin lebih bijak dari dia tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu ataupun kemarin.

This much changes pushed me into something new, until it's honestly too much if I may say. Aku gabisa bertahan sampek sekarang kalau bukan karena Tuhan.

Oh well what a year.

Segini dulu deh postingan kali ini

Arrivederci! -Author G-

Komentar