Grew out of Adolescence Love
A hopeless romantic to the core.
Yang selalu menangis saat datang ke upacara pernikahan.
Yang selalu membayangkan betapa bahagia dan indahnya pasangan yang tertawa kesal setelah menghabiskan waktunya untuk berargumen tentang hal-hal yang tidak terlalu relevan.
Gadis muda yang cintanya selalu di injak-injak
Keluguan ditengah anak-anak yang berakting seakan setelah lulus sekolah mereka akan langsung menikah dan hidup bahagia tidak seperti pendahulu mereka yang meninggalkan jejak luka yang tidak dapan disembuhkan hanya dengan kata maaf dan air mata.
Gadis yang memberikan cinta yang tulus, hewan yang tidak bisa berkata pun dia tahu cara berbahasa kasih.
Gadis yang selalu menjadi antagonis di mata para wanita lainnya yang mengejar pangeran yang bersandar di singgasana menunggu semua wanita berlari menghampirinya, menyuapinya dengan anggur dan kemewahan yang tidak kudus.
Gadis yang melukis wajah kekasihnya
Gadis yang menulis namanya menjadikan 1 kata menjadi ribuat kata, ratusan halaman.
Yang setiap puisi dan nada nyanyiannya selalu di tunjukkan untuk kekasihnya yang tidak pernah mau melihat ke arahnya.
Bagaikan seorang jenaka yang hanya datang untuk di tertawakan.
Seninya hanyalah bahan lelucon dan makian.
A lovelorn girl...
Young adult, growing and maturing.
Seorang wanita yang sekarang memilih untuk mencintai dalam diam, dan mengikhlaskan hatinya bahkan sebelum dia tau apapun.
Melihat dua insan di satukan, dan hal yang ada di dalam pikirannya bukanlah cinta tapi ketakutan dan pertanyaan tentang ketidak tahuan yang jauh dalam sebuah kehidupan yang baru.
Wanita yang kini menulis dengan kata-kata yang berputar hanya untuk membuat semua orang tersesat dalam setiap goresannya.
Caranya untuk melindungi karya dari hatinya yang kini sangat rapuh.
Tembok yang dia bangun dari setiap kepingan dan pecahan hatinya yang berkali-kali di remukkan dan di hancurkan kini melindungi hati yang sangat lunak.
Dia tetap menjadi ikon cinta yang hanya bisa di rasakan ketika kamu tenang di sekitarnya, kehadirannya yang seperti bayangan tidak kamu rasakan dan hanya seperti angin lewat.
Kali ini dia secara tenang merasakan indahnya jatuh cinta, dengan hati-hati dan tenang menghadapi perasaan yang ceroboh.
Tetap dengan kata-kata indah dan harapan yang sangat menakutkan karena ketidakpastian, sangat berat untuk membawa nama pujaan hatinya dalam doa-nya.
"Aku harap dia bahagia."
Meskipun bukan bersama dia, karena dia tau bukan dia yang seharusnya di dapatkannya.
Dari pada berdoa untuk mengekang cintanya untuk tetap bersamanya, dia berdoa agar cintanya menemukan potongan hatinya yang terhilang, yang sudah dia doakan lebih dulu sebelum dia sendiri mendoakan namanya.
Wanita yang kini tidak bisa menangis karena airmatanya hanya akan membuat dia cacat dalam melihat.
Wanita yang memilih tersenyum kecut kepada Tuhan dan berkata.
"Aku cemburu dan kecewa, namun ku harap dia bahagia dengan pilihannya."
Bukan lagi
"Kalau bukan aku, jangan ada yang lain yang boleh mendapatinya."
Gadis yang meninggalkan kempomong
Membuka lebar sayapnya yang indah dan terbang... Bukan mencari cintanya yang sesungguhnya.
Tapi menjadi bukti dari cinta itu sendiri.
Dia tidak perlu orang lain untuk menunjukkan cintanya.
Kehadirannya adalah cinta.
Komentar
Posting Komentar