Luntur - Author G (Part 2)
Yang belum baca Part 1 disini ya linknya.
"Shhhhhhhh aduh jangan
keras-keras.... ahaahaha maaf ya maaf gangguannya hehe."
Kak Jean menutup mulutku dengan
tangannya dan meminta maaf ke sekeling atas gangguan dari suaraku yang keras
tadi.
Aku masih tidak percaya dengan
informasi yang baru saja aku dapatkan ini, Kak Jean yang seperti itu di kantor
ternyata adalah mantan penulis novel-novel remaja?
Kak Jean yang terlihat sudah siap
untuk melanjutkan setiap cerita dan setiap penjelasan yang dengan jelas dia
lihat di mataku menanti setiap detailnya menungguku untuk menyiapkan mental,
aku yang langsung memosisikan telinga dengan tegak ini mempersilahkan Kak Jean
untuk melanjutkannya.
“Tapi, setelah lulus SMA itu aku
berhenti jadi penulis, meskipun banyak Publisher lamaku yang masih sering
menghubungiku untuk kembali ke dunia penulis, aku tetap menolaknya.” Kak Jean
kemudian menatapku dan tersenyum lembut “Kamu mau tahu alasannya kenapa?”
Aku
hanya menatapnya menunggu kelanjutan cerita mantan penulis yang bukunya selalu
jadi inspirasiku dulu.
“Karena aku ingin mencoba banyak
hal dihidupku, aku merasa semakin kesini tulisanku semakin bosan, hanya
berputar di situ-situ saja, mungkin untuk kebanyakan pembaca bilang tulisanku
masih sama bagusnya. Tapi justru itulah masalahnya, tidak ada hal baru, tidak
ada hal major yang menggaet pembaca-pembaca baru untuk tertarik dengan
tulisanku, dan sebagai penulis... itu cukup membuatku terpuruk, aku merasa aku
butuh sesuatu yang baru di hidupku untuk dapat menciptakan karya baru yang
punya warna berbeda. Terkadang perubahan itu memang perlu untuk kita dobrak.”
“Tapi...” aku berhenti sebentar sebelum memasang wajah
kecewa “Ini sudah hampir lima belas tahun berlalu sejak Kak Jean berhenti jadi
penulis... alasannya apa kali ini?”
Aku
bisa melihat raut wajah Kak Jean yang terlihat menyesal dan sedih. Dia sedikit
memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil menghela nafas panjang.
“Kesalahanku adalah aku memilih untuk menghabiskan
waktu luangku untuk mencoba banyak hal yang tidak memberiku hal baik yang dapat
aku tulis, selama lima tahun pertama itu aku menyia-nyiakan setiap pengalaman
yang ada.”
“Terus akhirnya untuk menebus kesalahan itu Kak Jean
memutuskan untuk jurnaling?”
“Iyap, awalnya untuk pemanasan
menulis, tapi haha... berbeda rasanya jurnaling dengan menulis. Aku sudah gak
bisa merasakan spark itu lagi jadi aku merelakan status ke penulisanku.
Sangat disayangkan bukan? Awalnya aku pun berpikir begitu, tapi aku sudah
berbaikan dengan kenyataan bahwa nama penaku itu mungkin bukan masa depanku,
biar nama penaku cukup pernah menjadi bagian dari masa mudaku, ada banyak hal
yang aku pelajari dari tahun menulisku, dari tahun aku mencari banyak hal baru,
dari tahun petualanganku, sampai aku bisa di titik ini aku akhirnya menemukan
jati diriku. Jean. Itu jati diriku, rangkuman dari setiap hal yang aku lakukan
yang membawaku sampai di titik ini, itulah Jean. Jean yang kamu ajak ngobrol
sekarang ini mungkin tidak akan ada di sini sekarang kalau bukan berkat setiap
kesalahan dan setiap pilihan yang aku pilih dulu.”
Kak Jean menatapku dengan tatapan
bangga. “Tania, umurmu masih panjang. Go have some fun! Berteman yang banyak,
coba banyak hal baru dan banyak hal lainnya, aku percaya jiwa penulisku masih
ada sampai sekarang tinggal aku mau mencoba untuk menggunakannya atau tidak,
dan aku percaya sampai kapan pun Jiwa senimu itu tak kan luntur Tania. Kamu
butuh banyak hal yang kamu harus rasakan di hidupmu. Tapi jangan sekalipun kamu
menyesali pilihanmu, daripada menyesal, mungkin lebih baik kalau kamu bangkit
dan kembali ke jalan yang akan terus membawamu maju, penyesalan hanya akan
membuatmu berhenti di satu tempat, penyesalan tidak memberimu pilihan lain
selain menyesal dan duduk di satu tempat untuk meratapinya.”
Aku merasa kata-kata Kak Jean siang
itu memberiku suatu pencerahan lagi, siang itu setelah selesai dengan segala
obrolan yang kita obrolkan, dan jam makan siang pun habis jadi kita berdua
kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusan kerjaan di hari itu.
Hari ini berjalan dengan lancar
sekali lagi tidak ada gebrakan baru di kantor selain gebrakan yang masih ada di
kepalaku, yang kini perlahan sudah mulai terlihat titik terangnya, sepulang
kerja aku bertemu dengan Kak Jean lagi untuk berterima kasih dengan obrolan
tadi siang yang membantuku untuk merapikan pikiranku. Di perjalanan pulang aku
memutuskan untuk lewat jalan yang sedikit memutar, aku mencoba untuk melewati
jalan-jalan yang belum pernah aku lewati, mencoba untuk melihat pemandangan
baru. Sore itu banyak hal yang tidak baru yang ternyata aku lewatkan selama
bertahun-tahun. Itu baru pemandangan pulang kerja melewati jalan yang tidak
pernah aku lewati sebelumnya, Kak Jean benar masih banyak hal yang belum aku
coba dan lihat di hidupku ini, mungkin dengan mencoba banyak hal baru merasakan
hal baru dan melihat hal baru aku akan menemukan Spark yang mulai padam
ini.
Sesampainya aku di rumah aku
membuka buku diary-ku yang ternyata sudah lama tidak pernah aku lanjutkan. Aku
mulai menulis hal baru yang hari ini aku temukan, mungkin tidak perlu seperti
jurnaling tapi paling tidak kalau aku disiplin dengan menulis diary aku akan
mulai terbiasa menulis untuk hal-hal lain yang lebih besar. Entah mungkin
memulai kembali aktif dengan nama penaku?
Hari ini berlalu dengan banyak
pencerahan baru, hari ke dua ini membawaku kepada perspektif yang baru,
pemandangan baru, informasi yang baru dan banyak hal lain yang baru, banyak hal
baru ini tanpa sadar membuatku sedikit pusing. “Overwhelming” begitulah
kataku sambil melamun menatap kertas di buku diary-ku yang sudah berisi penuh
dengan kata-kata.
Untuk memecah lamunanku ini aku
mendongakkan wajahku menatap atap putih.
“Anak kecil di mimpiku itu... aku?
Bisa gak ya malam ini ketemu dia lagi, kayaknya kemarin belum sempat bicara
tapi sudah terbangun... besok hari apa ya?” Aku membuka ponselku untuk melihat
kalender
Today : Fri, 22nd June
08:27pm
Hari Jumat, berarti besok hari
Sabtu, akhirnya masuk weekend, hari libur. Aku menghela nafas panjang,
sebenarnya ada alasan untuk aku tidur larut untuk malam ini, biasanya juga
begitu, ketika aku menatap mejaku yang di penuhi dengan notebook dan pena warna-warni
yang aku miliki sejak SMA hingga saat ini, rasanya sayang untuk tidur lebih
awal.
“Apa aku tunda saja harapan aku
mimpi bertemu dengan diriku yang kecil... hmm lagi pula, mimpi tidak harus make
sense... aku juga pernah mimpi 3 tahun tapi waktu bangun ternyata aku baru
tidur 4 jam.”
Aku mengangkat kedua bahuku mencoba
untuk mengabaikan pikiranku tentang mimpi itu. Aku mengambil pena favoritku dan
membuka kembali lembaran baru di buku binderku berwarna biru itu. Lembaran
kertas kosong yang sedikit berdebu karena lama tidak aku buka, ketika aku
membersihkan debunya dan mengelus kertas itu dengan lembut, aroma khas kertas
yang masih baru belum terpakai itu memberiku sedikit rasa nostalgia dan...
anehnya, tenang.
Aku mulai merangkai kata,
perlahan-lahan menata alur dan jalannya cerita mengisi plot, merangkai setiap
karakter dalam ceritaku ini dan mulai memikirkan judul dan kemudian menyatukan
setiap rangkaian paragraf demi paragraf menjadi kerangka kasar sebuah cerita,
kemudian aku mulai membuka laptopku mengetik menjabarkan setiap kalimat dalam
satu paragraf menjadikannya beberapa bagian dan kemudian menjadi bab dan... CHAPTER
13.
“Ah... sudah bab 13, 120 halaman?!
Hah?! Jam berapa ini?”
Aku terburu-buru membuka ponselku
Today : Sat, 23rd June
12:01am
Mataku tercengang melihat jam,
sudah tiga setengah jam berlalu, tanpa sadar aku sudah membuat cerita sejauh
ini, dan baru ketika aku mulai menggerakkan badanku rasa nyeri di punggungku
mulai menusuk.
“Aww...”
Aneh, baru tiga setengah jam
berlalu tapi punggungku sudah sesakit ini. “Baiklah punggung sebagai permintaan
maaf, ayo kita tidur.”
Rasanya ketika merebahkan tubuh ke
kasur memang rasa yang paling melegakan setelah seharian penuh melewati banyak
hal yang lumayan rumit, hal-hal yang menumpuk selama seminggu penuh ini. Aku
menguap sambil merenggangkan tubuhku di kasur, aku sekali lagi melihat ke
ponselku, foto-foto masa kecil dan gambar-gambar yang sempat aku foto, “Hmm
rasanya nostalgia... banget” aku menguap sekali lagi sebelum akhirnya aku
tertidur lelap.
“Kaaa..kk”
“Kakaaakk...”
“KAAAKK!”
Aku membuka mataku dengan terkejut,
aku mencoba mendapatkan kembali kesadaranku sebelum melihat sekelilingku.
Putih.
Ruangan putih, tidak ada perasaan
apa pun, dingin, maupun panas, padahal tidak ada ventilasi di ruangan ini,
hanya... putih, tanpa ada sudut batasan ataupun tembok. Ruangan tanpa batas
berwarna putih. Aku mulai bangun dari posisiku, mencoba berdiri sambil berjalan
menuju ujung, namun aku kembali lagi ke posisi awalku.
“Aneh, di mana aku?”
“Kakak!”
Aku kembali dikejutkan dengan suara
anak kecil yang memanggil-manggil ku kakak. Aku melihat sekitarku namun aku
tidak bisa melihat di mana anak itu berada.
“Kak! Bawah sini!!”
Aku merasa ada tangan kecil yang
meraih pahaku, aku sedikit melompat menjauh sambil akhirnya memperhatikan
seseorang yang berada di sebelahku... setinggi pahaku.
Rambut ikal pendek dengan wajah
plonga-plongo yang mirip... aku. Ini aku?!
“Eh... iya dek?”
“Kakak kenapa sih kok kayak orang
bingung begitu, sakit?”
Nggak! Gak gak gakkk!!! Terlalu
bawel! Aku di masa kecil itu pendiam, introvert, dia bukan aku, NOPE. Siapa
bocil berisik ini?
“Ah... gak aku gak apa, ini kita di
mana? Kamu apa di sini?”
“Kita? Kita di tempat... eh...
kakak mau kita di tempat kayak apa?”
Loh kok tanya aku mau di tempat
kayak apa, anak ini kenapa sih?
“Taman Renon?”
Begitulah jawabku asal-asalan,
dunia aneh, jawaban aneh pun gak masalah kan? Toh apa yang bakal terjadi kalau
aku jawa-
“OH?!”
Kemudian lantai dan seluruh ruangan
itu bergerak dengan kencang seperti gempa, perlahan lantai yang tadinya
berwarna putih bersih menjadi hijau, dengan rumput yang terasa masih segar baru
di potong, langit-langit yang putih pun perlahan berubah menjadi biru dengan
awan dan burung, kemudian pohon, batu-batu yang merangkai menjadi jalan
setapak, hingga muncul gedung yang terlihat seperti candi.
“Sudah jadi! Kita di taman Renon!”
Benaran jadi taman Renon, tapi...
belasan tahun berlalu, tidak ada perubahan, terlihat masih sama persis seperti
Taman Renon yang aku lihat di masa kecil. Aku menatap anak kecil yang kini
wajah terlihat bangga itu, sifatnya bukan sifatku, tapi dia memang terlihat
seperti aku di masa kecilku dulu.
“Kamu namanya siapa?”
“Anya. Anya-nya dari Tania. Tania
Santiago”
Yep itu memang benar namaku, anak
ini... aku? Gak mungkin.
“Kamu... kenapa di sini?”
“Aku yang sudah dewasa ini memang
begini ya? Aneh.”
Mulut anak ini rasanya seperti
pisau tajam yang menyayat egoku dengan brutal.
“Ahhahaha lucu. Gak! Kamu ini
siapa?!”
“Aku itu kamu, bodoh!”
Aku tersentak kaget dengan kata
terakhir di kalimatnya yang sendirinya sudah membuatku terkejut.
“Hei, gak sopan kamu ya! Kalau kamu
memang benar aku, harusnya kamu bisa jadi jauh lebih sopan dari ini, kamu
berpura-pura jadi aku kan? Mau apa kamu heh?!” aku mencengkeram lengan anak
kecil yang mengaku sebagai diriku ini kuat-kuat hingga dia memudar menjadi asap
hitam, berlanjut dengan pemandangan Taman Renon yang ikut memudar menghilang
bersamaan dengan menghilangnya sosok anak kecil tadi, dan tanpa lama ruangan
itu kembali menjadi putih.
“Aku akui anak tadi memang bikin
kesel, tapi kamu sendiri juga tidak mencerminkan sesosok orang dewasa yang...
dewasa.”
Arghhh siapa lagi ini?! Kali ini
muncul suara anak perempuan, suara terdengar lebih dewasa dari suara anak kecil
tadi, tapi tidak sedewasa itu, dari nadanya terdengar seperti anak remaja, yang
masih dalam fase rebelnya. Aku memalingkan wajahku ke belakang menatap ke arah
anak remaja yang, tidak salah lagi terlihat sepertiku, arghsdksg model rambut
apa itu?! Masak rambutku dulu terlihat seperti itu?! (Bayangkan rambut penyanyi
di tahun 80an dengan poni depan pendek di atas alis, ikal dan mengembang.)
dilihat-lihat lagi ternyata aku dulu memang seleranya aneh. Tidak salah semua
cowok yang aku sukai melihatku dengan jijik.
“Ah... kutebak. Aku di masa
remaja?”
“Bukan. Masa tua! Kurang jelas ya?”
Gila sarkas banget ini anak. Tapi
iya sih aku dulu waktu remaja memang jiwa rebel-nya sangat... susah untuk di
kasi takaran normal.
“Kamu... merasa tersesat ya?”
Anak ini menatapku dengan wajah
sinis mengejek.
“Bukan urusanmu... bawel”
Aku melihat wajah remajaku yang
berubah menjadi sedikit kaget dengan respon pedasku tadi, hari ini banyak hal
terjadi, bukan hanya hari ini saja tapi satu minggu penuh, dan sekarang aku
terjebak di ruangan putih aneh, bertemu dengan anak kecil yang terlihat
sepertiku namun sifatnya terlalu tidak sopan, sekarang anak remaja yang sok
keren... emosi yang menumpuk ini sudah tidak bisa di tahan dengan akal sehatu
lagi.
“Kayaknya jiwa sarkas-ku masih
bertahan dengan baik sampai dewasa, baguslah bagus.”
Anak itu mengangguk dengan wajah
bangganya dan kemudian berjalan menjauh sambil melambaikan tangan
“Baguslah, aku tidak tumbuh menjadi
orang yang menyedihkan.”
“Hei! Mau ke mana? Bukannya itu
jalan buntu?”
Tanpa ada jawaban sosok remajaku
menghilang dalam putihnya ruangan itu, suara gemaku saja yang menjadi jawaban
dari pertanyaanku tadi.
Tidak lama aku melamun menatapi
ruangan kosong menghilangnya sosok remajaku, terdengar suara lirih hembusan
nafas yang berat dari belakangku, sontak aku membalikkan tubuhku melihat ke
arah sumber suara itu berada. Sesosok perempuan yang sudah bukan remaja lagi,
anak muda, yang sedang duduk di lantai dengan buku sketsa dan pensil dan
penghapus yang tergeletak di sebelahnya. Dia menggambar sketsa pohon dengan
tenang, melihatnya menggambar dengan serius membuat hatiku sedikit sedih.
Wajahnya yang tertutupi oleh rambut panjangnya, kepalanya yang tertunduk
menatap buku sketsa. Sekilas pose duduknya terlihat seperti... udang. Ah aku
terkena sindrom udang karena terlalu banyak makan seafood bareng Angela.
“Hmm... jelek.” Anak itu akhirnya
mengubah posisi duduknya, menyilangkan kakinya dan dengan tiba-tiba menyobek
kertas buku sketsanya itu dengan kencang. Srakk...
“Eh? Kenapa di sobek? Itu bagus
loh” spontan aku mengatakan isi pikiranku dengan keras. Anak perempuan itu
memalingkan wajahnya untuk menatapku, wajahnya sayu, matanya seperti kurang
tidur, pipinya yang mulai terlihat ada bekas jerawat, dan yang membuatku
sedikit lega... poni dan rambutnya sudah rapi dan terlihat sesuai dengan wajah
dan usianya, yang kalau aku tidak salah tebak... mungkin 18 atau 19an.
“Nggak... ini jelek. Aku kurang
puas dengan hasilnya.”
Wow, baku sekali caranya bicara,
beda banget sama anak remaja tadi.
“Tapi jangan di sobek juga, sayang
kan hasilnya masih bisa kamu ubah, kertasnya juga masih bisa kamu pakai untuk
di timpa dengan gambar lain kan?”
Anak itu menatapku dengan wajah
tidak senang. Uh oh, aku lupa aku tidak pernah suka ketika orang lain mencoba
mengatur apa yang aku gambar dan apa yang aku lakukan pada gambarku.
“Ah... terserah kamu saja, ahaha
aku hanya memberi saran. Tidak perlu kamu tanggapi dengan serius juga tidak
apa.”
Aku menggaruk kepalaku, kikuk dan
canggung. Anak ini pendiam sekali, terlalu pendiam. Selang beberapa waktu aku
kini duduk tidak jauh dari gadis muda yang kembali sibuk dengan buku sketsanya,
hanya ada diam di antara kita, kalau saja aku punya buku notesku atau buku
sketsa atau laptopku di sini, aku juga akan menyibukkan diriku, canggung sekali
rasanya duduk berlama-lama di samping seseorang tanpa ada obrolan apa pun.
Karena aku tak tahan dengan diam yang keras ini aku pun memberanikan diri untuk
mengajak gadis itu berbicara, namun baru aku mencoba untuk membuka mulutku anak
ini berdiri dengan tiba-tiba, sekilas dia terlihat seperti oleng, namun dengan
cepat dia membenahi fokusnya dan melakukan sedikit perenggangan, duduk dengan
posisi membungkuk seperti udang selama berjam-jam, jelas terasa kebas itu
punggungnya, setelah dia terlihat nyaman dengan posisi berdirinya dia melamun
melihat sekeliling sebelum akhirnya menatapku dengan wajah sayu yang sekilas
terlihat seperti sedang kesal. Mungkin lelah menggambar terus kemudian setelah
selesai menyobek kertasnya dan ulang lagi. Dia menatap pakaianku dari atas
sampai ujung kaki, yang baru kini aku sadari aku memakai pakaianku kemarin
Jumat saat pergi ke kantor.
“Kita... jadi pegawai kantoran?”
Aku terkejut dengan pertanyaannya
yang tiba-tiba itu, dengan wajah riang aku hendak menjawab namun lagi-lagi
tersela oleh ucapannya.
“Atau cuman cosplay?”
HEH?! Kurang ajar. Enak saja bilang
cosplay, ini pakaian nyaman ke kantor beneran loh! Aku mencoba untuk mengatur
nafas menenangkan diriku sebelum menjawab dengan benar, kali ini tanpa di sela.
“Tidak, aku beneran kerja di
kantoran sekarang. Keren kan?”
Gadis itu mengernyitkan mata,
seolah-olah kecewa dengan jawabanku barusan.
“Kita... bukan seniman?”
Kata-kata terakhirnya memberi
pukulan keras di hatiku, aku hanya menatapnya dengan wajah tertegun, kehilangan
kata-kata untuk menjawabnya, namun fakta kalau aku pekerja kantoran itu sudah
jelas dan tidak bisa di bantah. Gadis itu memalingkan tubuhnya berjalan
memunggungiku. Lagi-lagi aku di tinggal di ruangan putih ini, kali ini tidak
ada lagi yang muncul, hanya aku sendirian dengan kesunyian yang mencekam,
ruangan putih itu entah kenapa terasa sangat sesak dan gelap, kepalaku terasa
sangat berat dan kesadaranku perlahan menghilang... terguncang... Taniaa...
Author G herrreee!
Yoooo maapkan lama update part 2 nya, jujur dulu rencana upload itu cuman cerpen doang gaada part-partnya TwT gak menyangkaaaahhh, dari part 2 ini aja udah ketauan masih ada lanjutannya :"D hehehe, apakah part 3 last? I hope so yahh TwT aku gak pinter banget bikin cerita pendek, pasti PANJANG BANGET jadinya aaaaa.
Anyway makasih udah baca sampek akhir, see you kapan-kapan kalo aku upload part 3 TwT urghhh masih WIP ini...
Komentar
Posting Komentar